Data terbaru yang dirilis oleh Departemen Statistik Singapura melalui Survei Rumah Tangga Umum menunjukkan pergeseran demografis yang signifikan di negara tersebut. Berdasarkan survei yang dilakukan di antara periode Sensus Penduduk sepuluh tahunan, ditemukan bahwa jumlah penduduk Singapura berusia di bawah 40 tahun yang belum pernah menikah mengalami peningkatan pesat pada tahun 2025 dibandingkan dengan catatan tahun 2020.
Lonjakan angka lajang paling mencolok terjadi pada kelompok usia 25 hingga 34 tahun. Di kalangan perempuan berusia 25 hingga 29 tahun, proporsi mereka yang belum menikah naik dari 69 persen pada 2020 menjadi 73,4 persen pada 2025. Sementara itu, pada kelompok pria berusia 30 hingga 34 tahun, angka pria yang belum menikah meningkat dari 41,9 persen menjadi 47,6 persen dalam periode yang sama.
Selain tren peningkatan status lajang, survei ini juga menyoroti penurunan rata-rata jumlah anak yang dimiliki oleh perempuan yang telah menikah. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran dalam perencanaan keluarga di tengah masyarakat Singapura, yang mencerminkan tantangan berkelanjutan bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan angka kelahiran nasional di tengah populasi penduduk tetap yang tercatat sebanyak 4,2 juta jiwa pada 2025.
Aspek lain yang terungkap dalam survei tersebut adalah perubahan lanskap sosial dan budaya di Singapura. Bahasa Inggris kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai bahasa utama yang paling sering digunakan dalam komunikasi di lingkungan rumah tangga. Hal ini menunjukkan dominasi bahasa Inggris yang semakin kuat dalam membentuk identitas sosial penduduk Singapura dari waktu ke waktu.
Di samping perubahan bahasa, laporan tersebut juga mencatat adanya pergeseran dalam keyakinan agama. Semakin banyak penduduk Singapura yang melaporkan bahwa mereka tidak memiliki afiliasi keagamaan. Tren ini mencerminkan dinamika masyarakat yang lebih sekuler, yang sejalan dengan perubahan pola pikir generasi muda di negara maju di kawasan Asia Tenggara tersebut.
Secara keseluruhan, hasil survei ini memberikan gambaran komprehensif mengenai transformasi demografis dan sosial Singapura. Data ini menjadi instrumen penting bagi pembuat kebijakan untuk mengevaluasi efektivitas program dukungan keluarga dan strategi kependudukan di masa depan, mengingat tantangan penuaan populasi yang terus membayangi stabilitas sosial dan ekonomi negara tersebut.