Internasional

Daya Tarik Kurs Mata Uang dan K-Beauty Dorong Lonjakan Belanja Wisatawan Tiongkok di Korea Selatan

Daya Tarik Kurs Mata Uang dan K-Beauty Dorong Lonjakan Belanja Wisatawan Tiongkok di Korea Selatan

Ringkasan

  • Wisatawan asal Tiongkok membanjiri Korea Selatan untuk berbelanja barang mewah dan produk K-beauty, didorong oleh kurs mata uang won yang melemah.

Tren wisata belanja kini menjadi magnet utama bagi wisatawan asal Tiongkok saat berkunjung ke Korea Selatan. Fenomena ini terlihat jelas dari perilaku wisatawan seperti Chelsea Wang, yang memilih menghabiskan waktunya di Seoul untuk berburu barang bermerek alih-alih mengunjungi objek wisata sejarah atau istana tradisional. Bagi Wang, perjalanan ini adalah strategi cerdas untuk mendapatkan barang impian dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan di negara asalnya.

Dalam kunjungannya pada akhir April lalu, Wang berhasil mendapatkan tas punggung dan parfum dengan selisih harga mencapai setidaknya 500 yuan atau sekitar 70 dolar AS lebih murah dibandingkan harga ritel di Tiongkok. Efisiensi biaya ini menjadi pendorong utama bagi banyak wisatawan Tiongkok untuk melakukan perjalanan lintas negara demi memenuhi kebutuhan gaya hidup dan barang mewah dengan harga miring.

Kasus yang lebih signifikan dialami oleh rekan Wang, seorang pekerja kantoran berusia 28 tahun bernama Wu. Sedang mempersiapkan pernikahan, Wu memanfaatkan kunjungan tersebut untuk membeli cincin pernikahan merek Chaumet di gerai Lotte Duty Free, Myeong-dong. Setelah memperhitungkan diskon, pengembalian pajak, dan kurs mata uang yang menguntungkan, ia berhasil menghemat sekitar 11.000 yuan dibandingkan harga di Tiongkok.

Faktor utama di balik fenomena ini adalah pelemahan nilai tukar mata uang won Korea Selatan terhadap mata uang global, termasuk yuan Tiongkok, selama setahun terakhir. Data menunjukkan bahwa pada Juni, satu yuan bernilai rata-rata 226 won, meningkat dibandingkan posisi 209 won pada Januari. Peningkatan daya beli ini secara langsung membuat barang-barang bermerek dan produk kecantikan Korea atau K-beauty menjadi jauh lebih murah bagi turis Tiongkok.

Industri ritel Korea Selatan, khususnya di kawasan wisata utama, kini semakin gencar menangkap peluang dari lonjakan permintaan ini. Strategi pemasaran yang menyasar wisatawan Tiongkok dengan menawarkan pengalaman belanja bebas pajak dan akses mudah ke produk-produk eksklusif menjadi kunci utama dalam memulihkan sektor pariwisata ritel pasca-pandemi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa fluktuasi kurs mata uang tidak hanya berdampak pada perdagangan makro, tetapi juga secara langsung mengubah pola perilaku konsumen dan industri pariwisata internasional. Bagi Korea Selatan, kekuatan sektor ritel dan popularitas produk K-beauty tetap menjadi aset berharga dalam menarik devisa dari pasar Tiongkok yang sangat besar dan dinamis.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menunjukkan bagaimana fluktuasi kurs mata uang dapat mengubah peta pariwisata dan ritel global secara drastis. Bagi pelaku bisnis di Indonesia, pola ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya strategi harga dan daya tarik produk lokal dalam menarik wisatawan mancanegara di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
4 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit