Ribuan demonstran dari berbagai elemen masyarakat, termasuk serikat pekerja, kelompok masyarakat sipil, dan partai sayap kiri, memadati kota Erfurt, Jerman, pada Sabtu lalu. Aksi besar-besaran ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap konferensi tahunan partai sayap kanan, Alternative for Germany (AfD), yang digelar menjelang pemilihan regional di negara tersebut.
Menurut laporan kepolisian Jerman, diperkirakan sekitar 20.000 orang memadati pusat kota Erfurt yang terletak sekitar 250 kilometer dari ibu kota Berlin. Kedatangan para pengunjuk rasa ditandai dengan mobilisasi masif, termasuk lebih dari 200 bus yang membawa massa dari berbagai wilayah di Jerman untuk memblokir akses jalan menuju lokasi konferensi.
Situasi di lapangan sempat memanas ketika sejumlah kelompok melakukan aksi duduk di pusat kota dan beberapa pengunjuk rasa dilaporkan melakukan aksi nekat dengan turun dari jembatan jalan raya. Meskipun terjadi ketegangan dan bentrokan sporadis dengan aparat kepolisian yang bersenjata lengkap, mayoritas delegasi AfD dilaporkan tetap berhasil mencapai lokasi pusat konferensi, sehingga acara tetap dapat dimulai tepat waktu.
Georg Becker, juru bicara aliansi anti-AfD bernama 'Widersetzen' (Resist), menegaskan bahwa aksi ini merupakan pesan nyata bahwa masyarakat Jerman tidak akan menoleransi bangkitnya paham fasisme di negara mereka. Para demonstran secara tegas menuntut agar partai AfD dilarang karena dianggap memiliki agenda yang membahayakan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Partai AfD sendiri saat ini tengah berada dalam sorotan tajam setelah meraih hasil signifikan dalam pemilihan tahun lalu, yang tercatat sebagai capaian tertinggi bagi partai sayap kanan sejak Perang Dunia II. Meski popularitasnya meningkat di tengah stagnasi ekonomi, seluruh partai arus utama di Jerman tetap menutup pintu untuk bekerja sama dengan AfD, merujuk pada pandangan partai tersebut yang dinilai ekstrem dan anti-demokrasi.
Lebih lanjut, Noa Sander, juru bicara lain dari aliansi protes, menyoroti retorika kontroversial AfD mengenai kebijakan 'remigrasi' yang dikhawatirkan mengarah pada deportasi massal dan pembersihan etnis. Pihak otoritas intelijen domestik Jerman pun telah memantau partai ini selama beberapa tahun terakhir atas dugaan aktivitas yang bertentangan dengan konstitusi negara, menjadikannya salah satu isu politik paling krusial di Eropa saat ini.