Amerika Serikat dilaporkan telah terlelap selama beberapa dekade saat China secara sistematis melemahkan kekuatan ekonomi AS melalui praktik pencurian ide, teknologi, dan yang terbaru, kemajuan di bidang kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan kesaksian dalam sidang komite kongres pada hari Kamis, militer China disebut menjadi pihak utama yang diuntungkan dari praktik ilegal ini.
Sidang yang diselenggarakan oleh House Select Committee on China ini secara khusus menyoroti maraknya spionase ekonomi dan upaya pengaruh China di tingkat negara bagian maupun lokal. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan bilateral yang terus meningkat terkait kebijakan kontrol ekspor dan persaingan teknologi global, meskipun sempat ada upaya stabilitas hubungan melalui pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan lalu.
David Shedd, mantan penjabat direktur Defense Intelligence Agency, memberikan kesaksian bahwa China telah merancang strategi yang sangat terakselerasi dan multifaset. Strategi ini bertujuan untuk mencuri rahasia komersial dan teknologi dari Amerika Serikat serta negara-negara Barat lainnya guna memuluskan ambisi nasional mereka.
Menurut Shedd, kampanye yang dilakukan Beijing memadukan berbagai metode, mulai dari spionase siber, intelijen manusia, kolaborasi akademik, hingga investasi komersial. Kombinasi taktik inilah yang diklaim telah menjadi instrumen penting dalam mendorong kebangkitan ekonomi dan militer China yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, beberapa saksi dan anggota parlemen menyampaikan keberatan terhadap pendekatan yang terlalu luas. Mereka berpendapat bahwa meskipun kampanye agresif Beijing untuk mendapatkan rahasia asing harus segera dihentikan, kebijakan yang menyasar mahasiswa, pemilik properti, peneliti keturunan China, maupun perusahaan swasta China secara membabi buta justru dapat merusak keamanan nasional AS itu sendiri.
John Yang, presiden dan direktur eksekutif kelompok sipil Asian Americans Advancing Justice, menekankan perlunya ketelitian dalam bertindak. Ia menganalogikan bahwa pemerintah seharusnya menggunakan pisau bedah, bukan palu godam. Menurutnya, tindakan yang tidak proporsional hanya akan menciptakan diskriminasi rasial yang membuat warga keturunan Asia di Amerika merasa tidak aman karena latar belakang etnis mereka.