Indeks Nasdaq mencatatkan penurunan selama empat sesi berturut-turut pada penutupan perdagangan Kamis (25/6), dipicu oleh pelemahan saham-saham raksasa teknologi seperti Apple. Sentimen pasar di Wall Street cenderung bervariasi sepanjang sesi perdagangan, di mana investor merespons beragam laporan kinerja emiten serta ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak dunia melonjak lebih dari dua persen setelah sebuah kapal kargo mengalami kerusakan akibat serangan proyektil misterius di lepas pantai Oman, tepatnya di jalur strategis Selat Hormuz. Insiden ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, terutama karena mengganggu proses evakuasi kru kapal di tengah situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya sempat mereda pasca kesepakatan damai.
Di sisi lain, saham Apple merosot tajam sebesar 6,2 persen setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga produk laptop dan tablet. Apple menyebutkan bahwa langkah tersebut terpaksa diambil sebagai respons atas lonjakan biaya memori dan penyimpanan data yang dipicu oleh tingginya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Tidak hanya Apple, raksasa teknologi lainnya seperti Amazon dan Microsoft juga mengalami tekanan harga setelah Komisioner Antimonopoli Uni Eropa, Teresa Ribera, menyiratkan aturan kompetisi digital yang lebih ketat.
Berbanding terbalik dengan sektor teknologi lainnya, Micron justru mencatatkan performa gemilang dengan lonjakan saham sebesar 15,8 persen. Perusahaan pembuat chip ini melaporkan laba fantastis mencapai 28,2 miliar dolar AS dengan pendapatan sebesar 41,5 miliar dolar AS. Angka ini menegaskan betapa besarnya permintaan pasar global terhadap teknologi berbasis kecerdasan buatan, yang turut memberikan dampak positif bagi bursa saham Asia seperti Kospi di Korea Selatan dan Nikkei di Jepang.
Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan revisi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama naik menjadi 2,1 persen, sementara tingkat pengeluaran konsumsi pribadi mencatatkan kenaikan 4,1 persen secara tahunan. Meskipun angka inflasi tersebut mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, para analis menilai bahwa penurunan harga minyak sebelumnya memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk tidak menaikkan suku bunga secara agresif di masa mendatang.
Di luar sektor teknologi, perusahaan farmasi asal Jerman, Bayer, mengalami lonjakan saham sebesar 18,7 persen setelah memenangkan putusan penting di Mahkamah Agung AS terkait sengketa hukum produk Roundup. Sementara itu, Ford turut mencatatkan kenaikan dua persen, menutup hari perdagangan yang dinamis bagi para pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika sektor teknologi yang sedang bertransformasi.