Paris Fashion Week musim ini menyaksikan gelombang baru dominasi desainer pria Jepang yang menyaingi nama-nama besar seperti Dior, Louis Vuitton, dan Hermès. Label-label seperti Auralee, Ssstein, Soshiotsuki, Graphpaper, dan Echapper menghadirkan koleksi yang menonjolkan tailoring rapi, kualitas kain tak tertandingi, serta estetika sehari-hari yang relevan dengan gaya hidup urban modern. Berbeda dengan pendahulu mereka yang mengandalkan warisan budaya atau estetika vintage, generasi ini fokus pada "sekarang" — menciptakan pakaian yang benar-benar dipakai pria kontemporer.
Ryota Iwai, pendiri Auralee yang didirikan 2015, menjadi salah satu tokoh sentral dalam gelombang ini. Brandnya membangun basis penggemar setia di Jepang berkat koleksi yang tidak terikat tren musiman. Penghargaan Fashion Prize of Tokyo pada 2018 membuka pintu debut di Paris Fashion Week tahun berikutnya. Sejak itu, Auralee konsisten menampilkan show yang dinantikan pembeli dan insider fashion global. Ssstein yang didirikan Kiichiro Asakawa pada 2016 mengikuti jejak serupa, debut di Paris pada Januari 2026 dan langsung meraih pujian kritikus serta nominasi semi-finalis LVMH Prize 2026.
Perbedaan mendasar dengan generasi pendahulu seperti Rei Kawakubo (Comme des Garçons), Issey Miyake, Yohji Yamamoto, dan Nigo terlihat jelas. Para senior cenderung mengeksplorasi kimono, budaya tradisional, atau reproduksi vintage Americana. Pendekatan itu kala itu revolusioner, namun kini dinilai beberapa pengamat sebagai "tongkat penopang" bagi brand yang kesulitan berinovasi. Desainer generasi sekarang justru menolak ketergantungan pada masa lalu. Mereka mempelajari bagaimana pria modern benar-benar berpakaian sehari-hari — dari kantor ke kafe, dari transportasi umum ke pertemuan santai — lalu menerjemahkannya ke dalam potongan yang presisi dan bahan berkualitas tinggi.
Joost Doeswijk, CEO brand Amsterdam Wandler dan kolektor lama fashion pria Jepang, mengamati pergeseran signifikan. "Saat ini saya melihat brand Jepang yang tidak berkompromi pada kain dan kualitas, namun bergerak lebih ke arah gaya Eropa," ujarnya. Ia menambahkan, pembeli Eropa memprioritaskan fungsionalitas, kesantainan, dan kenyamanan dalam pakaian sehari-hari. Hal inilah yang dipenuhi label-label baru ini: potongan oversized yang terkontrol, bahan alami yang nyaman, dan palet warna yang wearable namun tidak membosankan.
Kesiapan brand Jepang menyesuaikan kalender jual tradisional Barat juga menjadi faktor krusial. Daniel Todd, Buying Director Mr Porter, menilai kehadiran mereka di Paris membuat brand lebih "accessible" bagi pembeli internasional yang mencari "discovery brands" — label baru yang segar dibanding brand desainer besar yang sudah terlalu familiar. Mr Porter baru-baru ini menambahkan Ssstein, terkenal dengan celana tailoring impek, dan Graphpaper yang dikenal siluet oversized, ke dalam kurasi mereka. Aksesibilitas ini mempercepat ekspansi pasar global.
Ssstein sendiri menampilkan pergeseran estetika menarik di debut Paris-nya. Koleksi Januari 2026 menghadirkan tailoring santai, celana wide-leg, dan coat oversized dengan sentuhan warna eksperimen: merah api dan hijau hutan yang menyentuh dari netral earth-tone khas gaya mid-century Amerika yang lama mendominasi fashion pria Jepang. Langkah ini menandakan keberanian berani bereksperimen sambil mempertahankan fondasi kerajinan yang kuat. Graphpaper turut berkontribusi dengan siluet longgar yang tetap terstruktur, menawarkan alternatif bagi pria yang menginginkan kebebasan gerak tanpa terlihat kusut.
Kolaborasi lintas benua semakin memperkuat legitimasi global. Soshi Otsuki, pendiri Soshiotsuki, dipilih sebagai guest designer di Pitti Uomo Italia Januari lalu Januari 2025 dan memilih bekerja sama dengan stylist London Alister Mackie. Kemitraan itu dilanjutkan ke show Paris Juni 2025. Otsuki, pemenang LVMH Prize 2025 dengan tailoring modern terinspirasi salaryman Tokyo, juga mengamankan kemitraan dengan Zara Desember 2024. "Saya ingin membawa kedalaman lebih pada styling menswear brand ini," jelas Otsuki. "Dulu kami styling sepenuhnya in-house, tapi saya khawatir perspektif kita terjebak dalam konteks domestik. Saya butuh seseorang yang memahami kode dan sejarah menswear Eropa secara mendalam."
Strategi ini membuahkan hasil nyata. Kiichiro Asakawa mengaku melihat peningkatan drastis kunjungan pembeli asing ke Carol, multi-brand store Tokyo yang menjual Ssstein. "Beberapa tahun lalu, mayoritas pelanggan Asia. Sekarang kami melihat pembeli dari AS, Paris, dan Eropa lain," ucapnya. Fenomena serupa dialami brand lain. Echapper, didirikan Yasuharu Kuzaki dengan fokus bahan alami dan pewarnaan botanik, juga bermitra dengan brand British yang menjual pakaian "no-nonsense" untuk memperluas jangkauan.
Dari perspektif Indonesia, gelombang ini relevan mengingat minat fashion pria lokal yang berkembang pesat. Komunitas fashion enthusiast di Jakarta, Bandung, dan Surabaya sudah lama mengenal label seperti Kapital, Nanamica, atau Norbit. Hadirnya generasi baru yang lebih "wearable" dan berorientasi global membuka peluang distribusi resmi atau parallel import yang lebih mudah dijangkau konsumen Indonesia. Gaya oversized tailoring dan bahan natural juga cocok dengan iklim tropis dan preferensi pria Indonesia yang mulai meninggalkan fast fashion.
Industri fashion lokal pun bisa belajar dari model ini: membangun fondasi kualitas dan identitas di pasar domestik dulu, baru ekspansi global dengan menyesuaikan kalender dan kolaborasi strategis. Beberapa brand Indonesia sudah memulai langkah serupa, namun tantangan kualitas kain konsisten dan supply chain tetap jadi PR besar. Keberhasilan brand Jepang membuktikan bahwa "made in Japan" tetap merek dagang kuat — bukan karena nostalgia, tapi karena standar produksi yang tidak goyah.
Ke depannya, perhatian akan beralih ke keberlanjutan dan transparansi rantai pasok. Brand seperti Echapper yang menggunakan pewarnaan botanik menunjuk arah. Pembeli generasi Z dan millennial global, termasuk di Indonesia, semakin kritis soal dampak lingkungan. Desainer Jepang generasi baru yang sudah unggul di sisi estetika dan kualitas, kini ditantang untuk memimpin juga di sisi etika produksi. Jika berhasil, dominasi mereka di Paris Fashion Week tidak hanya musiman, tapi menjadi standar baru fashion pria global untuk dekade mendatang.