Ajang Piala Dunia 2026 menjadi momen yang emosional bagi diaspora Iran di Amerika Serikat. Di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama, komunitas Iran di negara tersebut terjebak dalam situasi yang rumit antara mendukung tim nasional sepak bola mereka atau mengekspresikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Iran.
Reza, seorang pemuda Iran yang menetap di Houston, mengungkapkan bahwa ia tetap merasa bangga saat melihat tim nasional negaranya, yang dikenal sebagai Team Melli, tampil impresif di lapangan hijau. Bagi banyak warga Iran di perantauan, sepak bola adalah satu-satunya ruang di mana mereka bisa merasakan keterikatan dengan tanah air tanpa harus bersinggungan langsung dengan dinamika politik yang kompleks.
Perjalanan Team Melli di turnamen ini tidaklah mudah. Mengingat kondisi perang antara kedua negara, skuad Iran terpaksa bermarkas di Meksiko dan hanya diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat beberapa jam sebelum pertandingan dimulai. Meskipun otoritas AS sempat melonggarkan aturan perjalanan, batasan ketat tersebut mencerminkan betapa tegangnya hubungan diplomatik kedua negara yang berimbas langsung pada dunia olahraga.
Di stadion, suasana pun tak kalah panas. Banyak penggemar terlihat membawa bendera Lion and Sun, simbol Iran pra-revolusi, sebagai bentuk protes terhadap rezim saat ini. Aksi ini menantang larangan FIFA terkait simbol politik, menunjukkan bahwa bagi diaspora, stadion adalah panggung untuk menyuarakan aspirasi yang tidak bisa mereka sampaikan di dalam negeri.
Sheila Rossi, Wali Kota South Pasadena yang telah menetap di AS sejak 1980-an, menyoroti perubahan persepsi terhadap warga Iran di Amerika. Menurutnya, selama puluhan tahun, warga Iran cenderung menyembunyikan identitas mereka karena stigma dan prasangka ekstrem. Namun, gerakan Woman, Life, Freedom telah menjadi titik balik penting yang mulai mengubah cara pandang publik Amerika terhadap komunitas Iran secara lebih luas.
Meski situasi geopolitik saat ini sangat menantang, Rossi mencatat bahwa sentimen permusuhan di tingkat akar rumput tidak terasa separah masa lalu. Baginya dan banyak diaspora lainnya, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, melainkan cermin dari pergulatan identitas antara loyalitas terhadap akar budaya dan realitas politik yang terus berubah di tanah rantau.