Tanjungpinang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau mengungkapkan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan saat ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut didominasi oleh kasus hipertensi dan diabetes, yang kini menjadi tantangan kesehatan utama bagi warga Kepri.
Kepala Dinkes Kepri, Yosei Susanti, menjelaskan bahwa risiko penyakit tidak menular tersebut paling banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa hingga pra-lansia. Menurut data lapangan, sekitar 90 persen dari penyebab hipertensi dan diabetes di wilayah tersebut dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat, termasuk kebiasaan merokok yang masih tinggi di kalangan masyarakat.
Sebagai upaya mitigasi, Dinkes Kepri gencar melakukan intervensi melalui edukasi pola hidup sehat. Masyarakat diimbau untuk lebih rutin mengonsumsi sayur, buah, dan ikan, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur. Tidak hanya edukasi, pihak dinas juga memastikan bahwa setiap warga yang terdeteksi mengidap hipertensi atau diabetes melalui program CKG akan segera diarahkan untuk mendapatkan penanganan medis di puskesmas atau dirujuk ke rumah sakit jika diperlukan.
Yosei menegaskan bahwa pengendalian penyakit ini sangat krusial karena hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai komplikasi serius. Dampak jangka panjang yang mungkin terjadi meliputi penyakit jantung, stroke, kerusakan ginjal kronis, hingga masalah penglihatan dan gangguan saraf yang dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat secara signifikan.
Terkait progres program, hingga Juni 2026, capaian skrining CKG baru mencapai 11 persen dari target 46 persen penduduk Kepri yang berjumlah lebih dari satu juta jiwa. Angka ini masih berada di bawah proyeksi target pertengahan tahun sebesar 20 persen, yang menunjukkan perlunya akselerasi dalam pelaksanaan program di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, Dinkes Kepri menghadapi sejumlah kendala teknis dan geografis. Proses penginputan data secara online di puskesmas terkendala oleh stabilitas sinyal, khususnya di pulau-pulau terluar. Selain itu, tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah menuntut strategi baru seperti layanan jemput bola di titik-titik keramaian agar akses kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara lebih optimal.