Internasional

Dolar AS Melemah dari Puncak 13 Bulan Pasca Rilis Data Ekonomi

Dolar AS Melemah dari Puncak 13 Bulan Pasca Rilis Data Ekonomi

Ringkasan

  • Dolar AS terkoreksi dari level tertinggi 13 bulan setelah data ekonomi menunjukkan inflasi yang sesuai ekspektasi dan pasar tenaga kerja yang solid.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami tekanan jual pada perdagangan Kamis, setelah sempat mencatatkan tren penguatan selama tiga sesi berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang memberikan sinyal beragam mengenai laju inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang menjadi indikator inflasi utama, melonjak 4,1 persen secara tahunan hingga Mei. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi sekaligus pertama kalinya menembus level 4,0 persen sejak April 2023, meskipun masih sesuai dengan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters. Secara bulanan, indeks PCE naik 0,4 persen, sedikit di bawah estimasi 0,5 persen.

Di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi, sektor konsumsi rumah tangga tetap menunjukkan ketahanan. Data menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat 0,7 persen pada Mei, naik dari 0,4 persen pada bulan April dan melampaui estimasi 0,6 persen. Ekonom dari Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai bahwa kekhawatiran konsumen terhadap inflasi kemungkinan besar sudah melewati fase terburuknya, terutama jika harga bahan bakar minyak terus menunjukkan tren penurunan.

Indeks dolar, yang mengukur mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, tercatat turun 0,18 persen ke level 101,43. Sebelumnya, dolar sempat menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan pada Rabu lalu, didorong oleh spekulasi pasar mengenai pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral AS di sisa tahun 2024.

Pasar kini mulai melakukan penyesuaian ekspektasi terkait kebijakan suku bunga. CME FedWatch mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan Juli telah turun menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 34,2 persen. Begitu pula untuk pertemuan September, ekspektasi kenaikan suku bunga melandai ke level 62,1 persen dari 65,7 persen pada sesi sebelumnya.

Selain data inflasi, Departemen Perdagangan juga merevisi pertumbuhan PDB kuartal pertama menjadi 2,1 persen secara tahunan, naik dari estimasi awal 1,6 persen. Sementara itu, data tenaga kerja menunjukkan klaim pengangguran awal mingguan turun sebanyak 12.000 menjadi 215.000, yang berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 225.000, menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan dolar AS memiliki dampak langsung terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah dan biaya impor komoditas di Indonesia. Selain itu, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi acuan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter domestik untuk menjaga daya beli dan iklim investasi.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit