Internasional

Dari Kamp Pengungsi ke Panggung Dunia: Kisah Inspiratif Pemain di Piala Dunia 2026

Dari Kamp Pengungsi ke Panggung Dunia: Kisah Inspiratif Pemain di Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Sejumlah pemain di Piala Dunia 2026 berbagi kisah inspiratif tentang perjuangan mereka yang berawal dari kamp pengungsi hingga mencapai puncak karier sepak bola profesional.

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan talenta sepak bola dunia, tetapi juga menjadi panggung bagi kisah-kisah perjuangan manusia yang luar biasa. Di Vancouver, Nestory Irankunda mencatatkan sejarah sebagai pemain termuda yang mencetak gol untuk Australia dalam turnamen ini. Kemenangan 2-0 atas Turkiye dirayakan dengan penuh emosi, namun di balik selebrasi tersebut, tersimpan latar belakang kehidupan yang jauh dari kemewahan.

Irankunda lahir di kamp pengungsi Kigoma, Tanzania, setelah orang tuanya terpaksa melarikan diri dari perang saudara di Burundi. Ia hanyalah satu dari sedikitnya sembilan pemain di Piala Dunia kali ini yang memiliki latar belakang sebagai pengungsi atau korban pengungsian. Kisah mereka kini menjadi sorotan dunia melalui kampanye 'Gamechanging Team' yang diinisiasi oleh badan pengungsi PBB, UNHCR.

Data dari UNHCR menunjukkan angka yang mengkhawatirkan dengan 117 juta orang di seluruh dunia terpaksa mengungsi, di mana hampir 49 juta di antaranya adalah anak-anak. Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Barham Salih, menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 adalah momen krusial untuk mengirimkan pesan harapan kepada dunia, sekaligus menunjukkan bahwa latar belakang masa lalu tidak membatasi potensi seseorang untuk meraih mimpi di level tertinggi.

Salah satu sosok yang paling menonjol adalah kapten Kanada, Alphonso Davies. Lahir di kamp pengungsi Buduburam, Ghana, setelah keluarganya melarikan diri dari perang saudara di Liberia, Davies kini menjadi duta besar niat baik UNHCR. Ia sering mengungkapkan rasa syukurnya karena berhasil keluar dari kamp tersebut dan mencapai kesuksesan di lapangan hijau, sebuah perjalanan yang ia akui mungkin tidak akan pernah terjadi jika keluarganya tetap bertahan di pengungsian.

Tidak hanya Davies, Mohamed Toure dari tim nasional Australia juga membawa kisah serupa. Lahir di kamp pengungsi di Conakry, Guinea, pada 2004, keluarganya menghabiskan 14 tahun menunggu proses pemukiman kembali setelah kampung halaman mereka di Liberia diserang. Perjalanan panjang dari kamp pengungsian menuju rumput stadion Piala Dunia menjadi simbol ketangguhan mental yang luar biasa bagi para atlet ini.

Kehadiran sembilan pemain dengan latar belakang pengungsi di Piala Dunia 2026 memberikan narasi yang lebih luas tentang kemanusiaan. Di tengah panggung sepak bola yang ditonton miliaran pasang mata, mereka membuktikan bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan dunia, meruntuhkan batasan geografis, dan memberikan inspirasi bagi jutaan pengungsi lain di seluruh dunia bahwa masa depan tetap bisa diraih meski harus menempuh jalan yang sulit.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menyoroti sisi kemanusiaan di balik industri olahraga global yang bernilai miliaran dolar. Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya dukungan sosial dan inklusivitas bagi kelompok rentan dalam meraih potensi terbaik mereka di bidang apa pun.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit