Pembalap tim Alpine, Pierre Gasly, akhirnya menerima trofi juara ketiga Grand Prix Monako setelah diserahkan langsung oleh pembalap Red Bull, Isack Hadjar. Penyerahan simbolis ini dilakukan di sirkuit Spielberg, Austria, menjelang rangkaian balapan akhir pekan ini. Meski trofi telah berpindah tangan, status resmi hasil balapan tersebut masih menjadi subjek banding yang belum terselesaikan, hampir tiga minggu setelah bendera finis dikibarkan di jalanan Monako.
Gasly sejatinya finis di posisi ketiga di Monako, namun posisinya sempat melorot ke urutan ketujuh setelah steward menjatuhkan dua penalti masing-masing lima detik akibat pelanggaran batas kecepatan di jalur pit. Keputusan tersebut kemudian dibatalkan beberapa hari berselang setelah FIA mengakui adanya kesalahan teknis dalam pencatatan waktu. Akibat perubahan ini, McLaren dan Red Bull mengajukan banding ke pengadilan internasional FIA, sementara Mercedes sempat meminta peninjauan sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik diri.
Dalam konferensi pers di Spielberg, Gasly mengungkapkan rasa leganya karena trofi tersebut kini berada di kediamannya. Ia mengaku senang bisa kembali memegang piala tersebut, yang menurutnya memiliki nilai sentimental tinggi. Di sisi lain, Hadjar, yang sempat merayakan podium di Monako, menyatakan bahwa ia merasa lega bisa menyerahkan trofi tersebut kepada rekannya sendiri, alih-alih kepada pihak lain yang tidak terlibat dalam persaingan langsung di lintasan.
Namun, situasi ini menyisakan kekecewaan bagi pembalap McLaren, Oscar Piastri. Pembalap asal Australia yang posisinya turun dari peringkat keempat ke kelima akibat perubahan hasil tersebut, menekankan perlunya transparansi dan kepastian regulasi. Menurut Piastri, ketidakpastian hasil balapan hingga satu bulan lamanya memberikan dampak negatif terhadap integritas olahraga, terutama karena tim tidak dapat mengambil keputusan strategis yang tepat di tengah balapan.
Piastri juga menyoroti preseden buruk yang mungkin tercipta dari insiden ini. Ia khawatir jika setiap tim merasa bisa mendebat penalti pasca-balapan, maka hasil resmi sebuah grand prix akan terus menggantung dalam waktu yang lama. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi penonton, sponsor, dan pihak-pihak yang terlibat dalam industri balap Formula 1 secara keseluruhan.
Hingga saat ini, FIA belum menetapkan jadwal resmi untuk sidang banding terkait insiden tersebut. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi otoritas balap dunia mengenai urgensi sistem pencatatan waktu yang presisi serta protokol penegakan aturan yang lebih efisien agar tidak terjadi ambiguitas yang berlarut-larut dalam penentuan pemenang di ajang balap kelas dunia.