Pengaruh China di benua Afrika kini telah melampaui sekadar investasi fisik dan kepemilikan saham di sektor pelabuhan. Berdasarkan temuan terbaru dari Africa Centre for Strategic Studies, perusahaan-perusahaan asal China kini memegang kendali atas perangkat lunak, sistem otomasi, hingga kecerdasan buatan (AI) yang menjadi tulang punggung operasional pelabuhan-pelabuhan strategis di Afrika. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan di mana infrastruktur digital menjadi instrumen utama dalam memperkuat pengaruh geopolitik dan ekonomi Beijing di wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar operasional pelabuhan, jangkauan China mencakup ekosistem logistik yang lebih luas, termasuk pembangunan dan pengelolaan jaringan jalan raya, jalur kereta api, serta fasilitas pergudangan yang terintegrasi dengan pelabuhan. Keterhubungan ini menciptakan ketergantungan yang erat antara sistem perdagangan Afrika dengan sistem perdagangan China. Integrasi yang mendalam ini memungkinkan China untuk mengendalikan rantai pasok dari hulu ke hilir secara lebih efisien dan terpusat.
Studi tersebut menyoroti pembentukan koridor pengiriman maritim yang menghubungkan klaster pelabuhan di Afrika langsung dengan kota-kota hub utama di China, seperti Qingdao dan Yantai di provinsi Shandong. Jalur-jalur ini dirancang untuk memfasilitasi arus barang yang lebih lancar menuju China, sekaligus mengukuhkan posisi Afrika sebagai bagian integral dari jaringan maritim yang berpusat pada kepentingan ekonomi Beijing. Hal ini mencerminkan ambisi jangka panjang China dalam mengamankan jalur perdagangan internasionalnya.
Data menunjukkan bahwa pengaruh maritim China telah menjangkau rute-rute krusial dunia, termasuk Teluk Aden, Teluk Guinea, hingga Tanjung Harapan. Rute-rute ini merupakan jalur vital bagi impor energi dan komoditas China, dengan nilai perdagangan tahunan mencapai sekitar US$350 miliar. Penguasaan atas infrastruktur di titik-titik strategis ini memberikan China posisi tawar yang sangat kuat dalam dinamika perdagangan global dan keamanan jalur laut.
Keterlibatan masif ini merupakan buah dari inisiatif Belt and Road (BRI) yang diluncurkan pada tahun 2013. Sejak saat itu, diperkirakan China telah menginvestasikan sekitar US$50 miliar dalam infrastruktur pelabuhan di Afrika. Data bea cukai China mencatat pertumbuhan perdagangan antara China dan Afrika mencapai hampir 18 persen pada tahun 2025, yang membuktikan bahwa investasi infrastruktur tersebut memberikan hasil nyata bagi kedua belah pihak, meskipun dengan dominasi yang condong ke arah Beijing.
Secara keseluruhan, temuan ini menggambarkan transformasi ketergantungan ekonomi tradisional menjadi ketergantungan berbasis teknologi. Dengan mengendalikan perangkat lunak dan sistem AI di pelabuhan, China tidak hanya menjadi investor, tetapi juga operator sistem saraf digital yang menjalankan ekonomi maritim Afrika. Langkah ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi kini digunakan sebagai alat untuk memperluas pengaruh di panggung geopolitik internasional.