Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan optimisme terkait progres perundingan dengan Iran. Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNBC pada Kamis, Trump mengeklaim bahwa Teheran telah menyetujui hampir seluruh poin tuntutan kunci yang diajukan oleh Washington. Pernyataan ini muncul di tengah upaya intensif dari berbagai pihak untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa prioritas utama kebijakan luar negeri AS terhadap Iran saat ini bukan pada upaya perubahan rezim, melainkan fokus pada isu non-proliferasi nuklir. Ia menekankan bahwa tujuan Washington sangat sederhana dan spesifik, yakni memastikan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki akses atau kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir yang dapat mengancam stabilitas global.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyoroti keunggulan militer Amerika Serikat atas Iran. Ia mengeklaim bahwa militer Iran telah berada dalam posisi yang sangat lemah dan sepenuhnya dapat dikendalikan oleh kekuatan militer AS. Trump bahkan menyebutkan bahwa pihaknya memiliki kapasitas untuk melumpuhkan seluruh aset rudal Iran jika situasi eskalasi kembali memburuk.
Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak pekan lalu ketika terjadi insiden peluncuran drone oleh Iran ke arah kapal milik AS. Menanggapi tindakan tersebut, Trump menyatakan bahwa pihaknya telah melancarkan serangan balasan yang keras sebanyak tiga kali sebagai bentuk peringatan tegas atas provokasi yang dilakukan oleh pihak Teheran di perairan internasional.
Sementara itu, proses diplomasi terus berjalan melalui peran mediator dari Qatar dan Pakistan. Pihak mediator mengonfirmasi bahwa putaran negosiasi selanjutnya akan segera dijadwalkan setelah rangkaian prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selesai dilaksanakan. Ali Khamenei diketahui meninggal dunia akibat serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Prosesi penghormatan terakhir bagi mendiang Ali Khamenei dijadwalkan berlangsung selama lima hari, yakni dari tanggal 4 hingga 9 Juli. Dunia internasional kini menantikan apakah fase transisi kepemimpinan di Iran akan memberikan ruang bagi kesepakatan diplomatik yang lebih permanen atau justru memicu ketidakpastian baru di kawasan Selat Hormuz yang strategis bagi jalur perdagangan energi dunia.