Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, secara tegas membantah tuduhan bahwa pemerintahannya bersikap lamban dalam merespons kehancuran akibat dua gempa bumi besar yang melanda pesisir utara Venezuela. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers pertamanya sejak menjabat pada Januari lalu, menyusul serangkaian kritik tajam dari publik terkait efektivitas upaya tanggap darurat pemerintah.
Dalam keterangannya di Pangkalan Udara Generalisimo Francisco de Miranda, Caracas, Rodriguez menyatakan bahwa gempa dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang wilayah tersebut merupakan tragedi alam skala besar yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Ia bersikeras bahwa pemerintah telah bertindak segera setelah gempa terjadi dengan mengeluarkan dekrit darurat untuk mengaktifkan protokol perlindungan sipil dalam hitungan jam.
Kondisi di lapangan semakin diperburuk oleh fakta bahwa hampir seluruh pejabat regional di La Guaira, negara bagian yang paling terdampak parah, dilaporkan tewas setelah gedung-gedung pemerintahan runtuh akibat guncangan hebat tersebut. Hal ini menciptakan kekosongan kepemimpinan lokal yang signifikan pada saat-saat paling kritis di masa awal bencana.
Hingga saat ini, pemerintah mencatat jumlah korban tewas telah mencapai 2.595 jiwa. Meskipun demikian, Rodriguez menegaskan bahwa upaya pencarian dan penyelamatan masih terus berlanjut karena otoritas masih meyakini adanya kemungkinan menemukan korban selamat di bawah reruntuhan bangunan.
Di sisi lain, respons terhadap bencana ini tampak sangat bergantung pada inisiatif warga sipil dan sukarelawan. Banyak penyintas yang terpaksa menggali reruntuhan dengan peralatan sederhana seperti sekop dan tangan kosong, dibantu oleh tim medis sukarela, dokter mahasiswa, serta tim penyelamat asing, sementara kehadiran alat berat untuk mengevakuasi beton besar masih menjadi keluhan utama di lapangan.
Data tidak resmi menunjukkan bahwa jumlah orang yang masih belum ditemukan sempat mencapai 60.000 jiwa, namun angka tersebut perlahan turun menjadi sekitar 38.500 orang hingga Kamis malam. Pemerintah saat ini terus mengoordinasikan pengerahan militer dan kepolisian di titik-titik utama untuk menjaga keamanan sekaligus mempercepat distribusi bantuan ke wilayah yang terdampak paling berat.