Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyoroti fenomena tingginya angka calon mahasiswa yang mengundurkan diri setelah dinyatakan lulus di perguruan tinggi negeri. Menurutnya, salah satu faktor utama yang menjadi penghambat adalah kekhawatiran terkait besaran biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dianggap memberatkan ekonomi keluarga.
Menanggapi situasi tersebut, Lalu mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memperluas akses beasiswa bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Ia menekankan pentingnya afirmasi yang lebih besar agar tidak ada lagi calon mahasiswa yang terpaksa melepas kesempatan pendidikan tinggi hanya karena kendala finansial. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan pemerataan akses pendidikan di Indonesia.
Di sisi lain, Lalu mengingatkan bahwa tidak semua perguruan tinggi negeri menerapkan biaya UKT yang tinggi. Ia memberikan contoh Universitas Mataram di Nusa Tenggara Barat yang memiliki skema UKT terjangkau, bahkan mulai dari Rp 500 ribu per semester. Oleh karena itu, ia mengimbau calon mahasiswa agar tetap melakukan pendaftaran ulang terlebih dahulu sebelum memutuskan mundur, karena besaran UKT akan ditetapkan melalui proses verifikasi data pendapatan orang tua.
Selain masalah finansial, Lalu memaparkan bahwa terdapat alasan lain di balik keputusan calon mahasiswa untuk tidak mendaftar ulang. Banyak di antaranya memilih untuk menempuh pendidikan di sekolah kedinasan, institusi TNI, maupun Polri. Selain itu, ada pula calon mahasiswa yang mengundurkan diri karena program studi yang didapatkan bukanlah pilihan utama, sehingga mereka lebih memilih untuk mencoba jalur lain atau mendaftar di perguruan tinggi lain.
Sementara itu, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, Eduart Wolok, memberikan klarifikasi terkait data jumlah calon mahasiswa yang mengundurkan diri. Ia membantah angka 60 ribu orang yang beredar, seraya menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai jalur penerimaan. Eduart menegaskan bahwa UKT di jalur SNBP sebenarnya telah disesuaikan dengan kemampuan ekonomi orang tua melalui data yang diisi oleh calon mahasiswa.
Eduart menambahkan bahwa ketidaksesuaian antara ekspektasi program studi dan realitas kelulusan sering menjadi pemicu utama. Banyak calon mahasiswa yang akhirnya memilih perguruan tinggi swasta atau kelas internasional ketika program studi yang diinginkan tidak tercapai melalui jalur nasional. Terkait beasiswa KIP Kuliah, ia menjelaskan bahwa alokasi saat ini telah dibagi secara proporsional antara perguruan tinggi negeri dan swasta untuk mendukung keberlangsungan studi mahasiswa.