Internasional

Drone Iran Serang Bahrain, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Drone Iran Serang Bahrain, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Ringkasan

  • Bahrain melaporkan serangan drone Iran, sementara kapal tanker di Selat Hormuz terkena proyektil di tengah ketegangan geopolitik.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Bahrain melaporkan adanya serangan drone asal Iran yang menyasar wilayah kedaulatan mereka pada Sabtu pagi. Insiden ini terjadi hanya selang beberapa waktu setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, yang sempat memberikan harapan bagi stabilitas kawasan Teluk. Kementerian Luar Negeri Bahrain, melalui kantor berita negara BNA, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menargetkan lokasi strategis, mengingat negara tersebut merupakan markas bagi Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.

Selain serangan drone di Bahrain, situasi di perairan Selat Hormuz juga dilaporkan tidak kondusif. Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil misterius pada hari yang sama. Meskipun data pelacakan kapal menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran masih berlangsung, insiden ini menambah daftar panjang gangguan keamanan di jalur perdagangan minyak dunia yang paling vital tersebut.

Pihak Teheran menyatakan bahwa serangan yang mereka lakukan merupakan aksi balasan atas serangan udara Amerika Serikat terhadap instalasi penyimpanan rudal dan sistem radar mereka pada Jumat sebelumnya. Amerika Serikat sendiri melancarkan serangan tersebut sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal kontainer di Selat Hormuz pada hari Kamis. Rangkaian aksi saling balas ini kini telah memasuki hari ketiga dan mengancam eskalasi konflik yang lebih luas.

Pejabat Amerika Serikat yang enggan disebut namanya menyatakan kepada CNN bahwa tindakan militer yang dilakukan Washington saat ini belum dikategorikan sebagai kembalinya operasi tempur besar-besaran. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa upaya untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menuju level pra-perang kini menghadapi tantangan besar dan risiko kemacetan logistik global.

Sebagai langkah antisipasi, Joint Maritime Information Centre (JMIC) telah meningkatkan level ancaman keamanan di Selat Hormuz menjadi "substantial" atau substansial. Pihak berwenang juga telah menerbitkan peringatan mengenai potensi keberadaan ranjau laut di sepanjang rute transit utama. Peringatan ini mencakup perluasan rute Oman yang direkomendasikan oleh angkatan laut Barat guna memfasilitasi pergerakan kapal dua arah secara simultan.

Situasi ini memberikan tekanan besar bagi pasar global yang sangat bergantung pada stabilitas jalur distribusi energi di kawasan tersebut. Dengan terganggunya keamanan di Selat Hormuz, para pelaku industri pelayaran internasional kini harus mempertimbangkan rute alternatif yang lebih aman namun berisiko menambah biaya operasional dan durasi pengiriman secara signifikan di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Mengapa Ini Penting

Gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak mentah global yang berdampak langsung pada biaya energi dan inflasi di Indonesia. Selain itu, ketegangan ini menuntut perusahaan logistik nasional untuk memitigasi risiko jalur pasokan maritim yang melewati kawasan konflik tersebut.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
28 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit