Kapal tanker raksasa VLCC Xin Long Yang berbendera Singapura dan VLCC Cosnew Lake berbendera China keluar dari Laut Merah menuju pelabuhan di Provinsi Guangxi dan Guangdong, China selatan. Kedua kapal itu sempat terhenti di tengah perairan yang digerakkan konflik pada awal pekan ini, setelah Houthi mengumumkan operasi militer menargetkan tanker Saudi yang dianggap melanggar larangan maritim mereka.
Data pelayaran LSEG mencatat Xin Long Yang memutar balik pada Selasa (21/7) lalu melanjutkan perjalanan ke selatan malam Rabu (22/7). Cosnew Lake menyusul di belakangnya, dan keduanya resmi melintasi selat strategis itu pada Kamis malam. Kedua unit mengaktifkan pemancar AIS yang menunjukkan keberadaan awak kapal China serta muatan minyak mentah dari Pelabuhan Yanbu, Saudi Arabia, awal pekan lalu.
Latar belakang insiden ini bermula dari eskalasi ancaman Houthi sejak pertengahan Juli. Milisi yang didukung Iran itu mengumumkan blokade total terhadap kapal komersial yang muat atau bongkar kargo di pelabuhan Saudi, memperluas jangkauan serangan ke "di mana saja" bagi perusahaan yang terlibat. Langkah ini menjawab dukungan Riad bagi operasi militer AS-Israel di Gaza, sekaligus membuka front tekanan baru terhadap Washington dalam proksi konflik dengan Teheran.
Kendati demikian, keberhasilan dua supertanker ini menembus blokade menandakan celah dalam penegakan larangan Houthi. Para analis pelayaran menilai kapal berbendera non-Barat — khususnya China — cenderung mendapat toleransi relatif, mengingat Beijing menjaga netralitas diplomatik dan menjadi pembeli minyak Saudi terbesar. Xin Long Yang meski berbendera Singapura, dikoperasikan entitas terkait China, memperkuat narasi perlindungan implisit.
Dampak bagi pasar energi global terasa nyata. Lalu lintas Bab el-Mandeb anjlok dari 38 kapal harian menjadi 27 unit pekan ini, termasuk hanya lima tanker minyak dan satu kapal LPG. Penurunan 29 persen itu memaksa rute alternatif keliling Tanjung Harapan, menambah 10-14 hari perjalanan dan biaya bunker serta asuransi yang melonjak. Harga minyak Brent sempat menguat 2 persen pekan lalu atas ketidakpastian pasokan.
Bagi Indonesia, implikasinya bersifat tidak langsung namun signifikan. Sebagai importir neto minyak mentah dan produk raffinasi, kenaikan biaya flete dan premi asuransi war risk akan meresap ke harga BBM domestik jika berkepanjangan. Pertamina dan raksasa energi lain seperti Shell Indonesia atau BP Akr harus mengalokasikan budget hedging lebih besar. Di sisi lain, pengiriman LNG dari Qatar dan Australia yang juga lewat selat ini rentan gangguan, mengancam ketahanan listrik tenaga gas di Jawa-Bali.
Kementerian ESDM dan Pertamina hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi soal rencana mitigasi. Namun sumber industri mengaku memantau perkembangan ketat. "Kami memiliki kontrak jangka panjang dengan supplier Timur Tengah yang mencakup klausul force majeure, tapi pengiriman spot jadi mahal," ujar seorang manajer perdagangan minyak di Jakarta yang menolak dinamai. Ia menambahkan, diversifikasi sumber ke AS, Afrika Barat, dan Amerika Latin sedang dipercepat.
Di sisi geopolitik, keberhasilan China mengekstrak minyak Saudi di tengah blokade memperkuat narasi Beijing sebagai mitra energi andal bagi Riyadh. Hal ini memperdalam pivote Saudi ke timur, mengurangi ketergantungan pada payung keamanan AS di Teluk. Untuk Jakarta, dinamika ini menuntut penyesuaian diplomasi energi — memperkuat kerjasama dengan Beijing tanpa mengorbankan hubungan strategis dengan Washington.
Proyeksi ke depan bergantung pada respons militer AS dan sekutunya. Jika Operasi Prosperity Guardian diperkuat dengan patroli lebih agresif, Houthi mungkin mengubah taktik ke serangan drone atau misil hipersonik yang lebih sulit diintersep. Sebaliknya, jika diplomasi lewat Oman atau Uni Eropa berhasil mendinginkan suhu, aliran pelayaran bisa normalisasi dalam 4-6 minggu. Pelaku industri di Indonesia disarankan mengunci kontrak flete jangka menengah sekarang sebelum premi asuransi melonjak lagi.