Internasional

Eisenkot Serang Netanyahu soal Kesepakatan Hamas: Tujuan Perang Belum Terwujud

Ringkasan

  • Calon perdana menteri Israel Gadi Eisenkot menilai kesepakatan Hamas dengan Board of Peace gagal memenuhi tujuan perang Israel, yaitu melumpuhkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas di Gaza.

Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel yang kini memimpin partai Yashar, meluncurkan kritik tajam kepada Benjamin Netanyahu menyusul kabar Hamas menyetujui peta jalan Board of Peace (BoP) serta bersedia melucuti senjata di Jalur Gaza. Lewat akun X-nya pada Jumat (31/7), Eisenkot menegaskan bahwa setiap kesepakatan hanya boleh diukur dari satu standar: apakah tujuan perang Israel — menghancurkan atau melumpuhkan kapasitas militer dan tata kelola Hamas — tercapai atau tidak.

"Apa pun yang tidak memenuhi tujuan tersebut merupakan kegagalan total," tulisnya, mengutip laporan Al Jazeera. Pernyataan ini datang di moment krusial, tepat sebelum pemilu Oktober mendatang di mana Netanyahu menghadapi tekanan ganda dari dalam dan luar negeri.

Latar belakang kritik ini adalah ketidakpuasan publik Israel yang semakin memuncak sejak Oktober 2023. Operasi militer yang berlangsung lebih dari sembilan bulan dinilai gagal mencapai hampir seluruh target strategis, kecuali pelepasan sejumlah sandera. Netanyahu sendiri enggan membuka detail kesepakatan dengan Hamas kepada publik, membangkitkan kecurigaan apakah deal tersebut dipaksakan tanpa keterlibatan langsung pemerintah Israel dalam proses perumusannya.

Di kancah domestik, sentimen terhadap pemerintahan Netanyahu yang sudah tujuh kali menjabat terus merosot. Ketidakjelasan hasil perang terhadap Hamas dan Iran, ditambah isolasi diplomatik yang semakin dalam, menciptakan tekanan politik yang belum pernah dialami pemimpin paling lama berkuasa dalam sejarah Israel modern. Hubungan dengan Donald Trump, sekaligus sekutu strategis, pun merenggang akibat perbedaan pandangan soal strategi menghadapi Iran.

Survei terbaru yang dikutip Times of Israel memperlihatkan pergeseran preferensi dramatis. Ketika ditanya siapa yang layak menjabat perdana menteri, 38 persen responden memilih Eisenkot, 27 persen tetap pada Netanyahu, dan 12 persen mendukung Naftali Bennett. Angka kepercayaan publis mengikuti pola serupa: Eisenkot 38 persen, Netanyahu 27 persen, Bennett 12 persen.

Namun, pada isu pengelolaan ekonomi dan biaya hidup, Bennett unggul dengan 28 persen dukungan, di atas Netanyahu (23 persen) dan Eisenkot (16 persen). Data ini menunjukkan bahwa meskipun Eisenkot memimpin pada citra kepemimpinan dan keamanan, tantangan ekonomi tetap menjadi ladang pertarungan tersendiri.

Eisenkot, yang dikenal sebagai figur militer pragmatis, mencoba memposisikan dirinya sebagai alternatif yang mampu mengkhususkan keamanan tanpa mengabaikan tata kelola. Kritiknya soal kesepakatan Hamas bukan sekadar retorik kampanye, melainkan cerminan kekecewaan institusional terhadap strategi perang yang dinilai terlalu bergantung pada kekuatan api tanpa rencana politik pasca-konflik yang jelas.

Di sisi lain, kesiapan Hamas melucuti senjata di Jalur Gaza — jika benar terwujud — menciptakan dilema bagi Israel. Menerima deal berarti mengakui Hamas tetap eksis sebagai entitas politik, menentang narasi "penghancuran total" yang dibangun Netanyahu selama ini. Menolaknya berarti mempertanggungjawabkan keamanan sandera dan eskalasi baru di depan mata pemilu.

Kendati demikian, analis Israel memperingatkan untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan kejatuhan Netanyahu. Basis pendukungnya di blok kanan dan ortodoks tetap padat, dan sistem politik Israel yang memerlukan koalisi membuat prediksi hasil pemilu sulit dipastikan. Fragmentasi oposisi antara Eisenkot dan Bennett justru bisa menguntungkan Netanyahu jika keduanya gagal menyatukan suara.

Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena Israel merupakan mitra dagang teknologi dan pertahanan signifikan. Ketidakstabilan politik di Tel Aviv berpotensi mengganggu kerjasama bilateral, termasuk proyek kolaborasi siber, irigasi, dan pertahanan yang sedang berjalan. Selain itu, eskalasi di Gaza memengaruhi harga komoditas global dan sentimen pasar modal, yang berdampak tidak langsung pada ekonomi Indonesia.

Langkah selanjutnya akan ditentukan oleh tiga faktor: apakah kesepakatan BoP benar-benar ditandatangani dan dilaksanakan, bagaimana Netanyahu merespons tekanan koalisi internal, dan apakah Eisenkot serta Bennett mampu menyusun platform oposisi yang koheren. Pekan-pekan depan akan menjadi uji nyata apakah Israel bergerak ke transisi kepemimpinan atau Netanyahu berhasil menahan kendali sekali lagi.

Mengapa Ini Penting

Kestabilan politik Israel memengaruhi kerjasama teknologi pertahanan dan pertanian dengan Indonesia yang nilainya mencapai ratusan juta dolar per tahun. Pergantian kepemimpinan berpotensi mengubah orientasi kebijakan luar negeri Israel, termasuk sikap terhadap Iran yang memengaruhi harga minyak global. Dinamika pemilu Israel juga menjadi studi kasus bagi demokrasi Indonesia tentang bagaimana akuntabilitas perang dan kinerja ekonomi menjadi faktor penentu nasib inkumben.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
31 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit