Hanoi – Vietnam mencatatkan performa ekonomi yang impresif pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan resmi dari Kantor Statistik Nasional (GSO) Vietnam yang dirilis pada Jumat (3/7), Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut berhasil tumbuh sebesar 8,18 persen secara tahunan. Capaian ini menegaskan posisi Vietnam sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi paling dinamis di kawasan Asia Tenggara.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu pilar penopang dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,87 persen (yoy). Meskipun sektor ini memiliki pertumbuhan yang lebih moderat dibandingkan sektor lainnya, kontribusinya tetap krusial dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional Vietnam di tengah fluktuasi pasar global.
Di sisi lain, sektor industri dan konstruksi menunjukkan performa yang sangat kuat dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 9,81 persen. Ekspansi masif dalam aktivitas manufaktur dan pembangunan infrastruktur di Vietnam menjadi motor penggerak utama yang mendorong tingginya angka PDB nasional selama enam bulan pertama tahun ini.
Sementara itu, sektor jasa juga memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan sebesar 8,09 persen. Peningkatan aktivitas di sektor pariwisata, perdagangan, dan layanan keuangan mencerminkan pemulihan serta penguatan daya beli masyarakat yang konsisten di Vietnam sepanjang semester pertama 2026.
Menatap masa depan, pemerintah Vietnam telah menetapkan target ambisius untuk paruh kedua tahun 2026. Dilansir oleh harian Tien Phong, otoritas Vietnam menargetkan pertumbuhan PDB sebesar 11,9 persen pada semester kedua. Target ini ditetapkan sebagai langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dalam setahun penuh mampu mencapai angka dua digit.
Keberhasilan Vietnam dalam mengelola sektor-sektor kunci menunjukkan efektivitas kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah setempat. Dengan fokus pada industrialisasi dan penguatan sektor jasa, Vietnam terus memperkuat daya saingnya di tingkat regional, sekaligus menantang ekspektasi pasar global terhadap stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara.