Internasional

Ekspor Non-Minyak Singapura Meroket 20,7% Ditopang Gelombang Permintaan AI

Ringkasan

  • Ekspor non-minyak Singapura naik 20,7% pada Juni karena permintaan AI kuat, demikian EnterpriseSG Jumat lalu.

Badan promosi perdagangan Enterprise Singapore melaporkan lonjakan ekspor non-minyak domestik (NODX) negara itu sebesar 20,7 persen pada Juni 2025 dibanding periode sama tahun lalu, didorong oleh permintaan kecerdasan buatan (AI) yang masih kuat. Pertumbuhan tersebut melambat jika dibanding ekspansi 38,4 persen pada Mei, namun tetap menunjukkan daya tahan sektor teknologi di tengah tekanan ekonomi global.

Produk elektronik memimpin kenaikan tersebut. Ekspor elektronik non-minyak melesat 105,1 persen pada Juni, menyusul lonjakan 94,8 persen di bulan sebelumnya. EnterpriseSG mencatat bahwa lonjakan ini berasal dari pesanan komponen pendukung AI, terutama sirkuit terintegrasi, media penyimpanan disk, dan komputer pribadi.

Sirkuit terintegrasi mencatat kenaikan tahunan 115,4 persen. Pengapalan media penyimpanan disk melonjak 170,9 persen, sedangkan komputer pribadi tumbuh 95,8 persen. Angka tersebut mencerminkan betapa cepatnya negara-negara Asia memasok rantai nilai infrastruktur komputasi kecerdasan buatan global.

Di balik angka tersebut, terdapat pergeseran pola investasi teknologi dunia. Perusahaan cloud dan pengembang model AI besar di Amerika Serikat serta Tiongkok terus menambah kapasitas pusat data. Kebutuhan akan cip dan perangkat keras pendukungnya menciptakan permintaan nyata yang tidak mudah digantikan dalam waktu dekat.

Singapura menempati posisi strategis sebagai hub perakitan dan redistribusi komponen semikonduktor. Negara ini tidak memproduksi banyak cip dari nol, namun fasilitas logistik dan jaminan kualitasnya membuatnya menjadi pintu utama ekspor regional. Hal itu menjelaskan mengapa NODX tetap kuat kendati pertumbuhan melambat.

Sementara itu, ekspor non-elektronik justru turun 2,9 persen pada Juni, setelah naik 17,7 persen pada Mei. Penurunan dipicu oleh lesunya pengapalan emas non-moneter, petrokimia, dan produk pangan olahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa hanya sektor terkait teknologi yang benar-benar tahan krisis saat ini.

Re-ekspor non-minyak juga melonjak 60,3 persen, melanjutkan kenaikan 33,5 persen dari Mei. Total perdagangan barang merangkak naik 49,3 persen dengan nilai mencapai 158,1 miliar dolar Singapura, terdiri dari ekspor 85,5 miliar dan impor 72,6 miliar dolar Singapura. Pasar utama seperti Taiwan, Amerika Serikat, dan Korea Selatan mencatat kenaikan NODX tertinggi.

Bagi Indonesia, tren ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, produsen dalam negeri yang memasok bahan antara ke Singapura bisa menikmati efek limpahan permintaan. Di sisi lain, ketergantungan pada impor komponen elektronik dari luar masih tinggi sehingga defisit neraca perdagangan sektor teknologi sulit dipangkas.

Industri semikonduktor lokal seperti PT Smelting dan beberapa perusahaan pendukung di Batam belum menyentuh rantai utama AI. Mayoritas cip dan memory disk yang beredar di Indonesia masih diimpor utuh. Artinya, lonjakan Singapura belum otomatis memperkuat industri dalam negeri secara langsung.

EnterpriseSG menyatakan bahwa permintaan AI yang robust menjadi pendorong utama ekspansi elektronik tersebut. Lembaga itu memastikan bahwa sirkuit terintegrasi dan perangkat penyimpanan menjadi variabel paling menentukan dalam kinerja ekspor Juni.

Ke depan, pertumbuhan ekspor Singapura diproyeksikan tetap positif selama investasi pusat data global tidak melambat. Namun, risiko tarif dan perlambatan ekonomi di negara maju bisa memotong laju tersebut pada kuartal berikutnya. Indonesia perlu memetakan ulang strategi substitusi impor agar tidak sekadar menjadi pasar akhir dari booming AI regional.

Pemerintah dan pelaku industri dalam negeri dapat menjadikan data Singapura sebagai sinyal awal. Jika permintaan komponen AI terus naik, peluang membangun fasilitas perakitan berskala menengah di kawasan seperti Rempang atau Bintan semakin terbuka. Langkah itu akan menentukan apakah Indonesia ikut menikmati dividend teknologi atau tetap berada di pinggiran rantai pasok.

Mengapa Ini Penting

Boom ekspor teknologi Singapura menunjukkan bahwa AI sudah menjadi kekuatan ekonomi riil, bukan sekadar tren media. Indonesia yang masih mengimpor hampir seluruh cip dan perangkat pendukung AI berisiko tertinggal dalam capture nilai industri ini. Lonjakan tetangga sebaiknya memicu percepatan pembangunan industri substitusi impor di kawasan perbatasan seperti Batam dan Bintan. Tanpa itu, masyarakat Indonesia hanya akan merasakan kenaikan harga perangkat, bukan pertumbuhan lapangan kerja teknologi.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit