Sekitar setengah juta warga sipil terjebak di kota El-Obeid, ibu kota negara bagian Kordofan Utara, Sudan, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan militer Sudan. Situasi di kota tersebut kian memprihatinkan menyusul ambisi RSF untuk memperluas dominasi teritorialnya di wilayah Kordofan dan Darfur, sebuah langkah yang dikhawatirkan akan memicu krisis kemanusiaan baru yang lebih besar di tengah perang saudara yang telah berlangsung selama tiga tahun.
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia telah mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi bencana kemanusiaan yang akan terjadi jika pertempuran besar pecah di El-Obeid. Kota ini telah menjadi sasaran serangan drone tanpa henti selama berbulan-bulan, yang secara sistematis memutus akses warga terhadap kebutuhan pokok. Kehancuran infrastruktur vital, termasuk pembangkit listrik, telah menyebabkan pemadaman total, mengganggu pasokan air bersih, dan melumpuhkan fungsi rumah sakit yang menjadi tumpuan bagi 500.000 penduduk, termasuk 105.000 pengungsi internal.
Kekhawatiran dunia internasional meningkat setelah RSF berhasil menguasai El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, pada Oktober lalu setelah pengepungan selama 18 bulan. Laporan dari Amnesty International menyebutkan bahwa kekejaman yang terjadi di El-Fasher dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis, sementara misi independen PBB menyatakan bahwa serangan tersebut memiliki indikasi kuat genosida. Pola serangan yang serupa kini terlihat di El-Obeid, menempatkan penduduk dalam situasi terjepit tanpa ruang untuk melarikan diri.
Koalisi internasional yang dipimpin oleh negara-negara seperti Norwegia, Inggris, Jerman, dan Prancis telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam potensi kekejaman massal di El-Obeid. Dalam sepuluh hari terakhir saja, serangan drone telah menewaskan sedikitnya 50 warga sipil dan merusak infrastruktur vital secara signifikan. Laporan mengenai kekerasan berbasis etnis serta kekerasan seksual yang ditargetkan menambah daftar pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah tersebut.
Perang di Sudan yang meletus sejak April 2023 telah menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia modern. Konflik ini telah merenggut puluhan ribu nyawa dan menciptakan krisis pengungsian terbesar secara global dengan lebih dari 14 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Tanpa adanya intervensi internasional yang signifikan, El-Obeid berisiko menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan berikutnya yang akan memperparah stabilitas kawasan Afrika Timur.
Yale Humanitarian Research Lab mencatat bahwa krisis bahan bakar dan listrik di El-Obeid telah mencapai titik nadir, membatasi kemampuan komunitas lokal untuk bertahan hidup. PBB terus mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur esensial, namun hingga saat ini, seruan tersebut belum membuahkan gencatan senjata yang berarti di tengah ambisi militer yang terus membara.