Seorang jurnalis mencicipi 300 anggur Nebbiolo dari Barolo, Barbaresco, dan Roero dalam uji cita rasa buta di Alba, Italia, November lalu, dan menetapkan enam produsen sebagai yang terbaik. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dengan 100 sampel per hari, mempertemukan 145 rumah anggur dari konsorsium Albeisa.
Nebbiolo adalah varietas anggur merah berkulit tebal yang tumbuh di lereng curam Langhe, Piedmont, Italia barat laut. Anggur ini dikenal membawa aroma mawar, ceri, ter, dan herbal kering ke dalam gelas. Karakteristik tersebut menjadikannya mirip Pinot Noir dari sisi warna terang dan ketergantungan pada terroir, namun tanin Nebbiolo jauh lebih agresif dan mencengkeram.
Cita rasa Nebbiolo sangat dipengaruhi oleh lokasi penanaman. Geolog Edmondo Bonelli menjelaskan bahwa tanah di Langhe mulai terbentuk 15 juta tahun lalu saat wilayah tersebut masih berada di bawah laut. Komposisi kapur, marl, lempung, dan batu pasir memberi struktur pada anggur. Roero yang berada di tanah pasir berusia 7 juta tahun menghasilkan anggur lebih ringan dan harum.
Barolo dan Barbaresco merupakan pengekspresian Nebbiolo paling prestisius. Hanya 11 desa di selatan dan barat daya Alba yang berhak memproduksi Barolo. Lima di antaranya paling dihargai: Barolo, Castiglione Falletto, Serralunga d'Alba, La Morra, dan Monforte d'Alba. Wilayah ini terbagi menjadi 170 MGA yang setara dengan sistem cru di Prancis.
Vintage 2022 menjadi tantangan tersendiri. Kekeringan ekstrem mengecilkan buah dan menurunkan keasaman sehingga panen dimajukan. Sejumlah estate terkemuka memilih tidak merilis anggur kebun tunggal demi menjaga kualitas blend. Pembuat anggur memangkas waktu perendaman kulit dan fermentasi dingin untuk menjaga kesegaran.
Bagi pembaca Indonesia, tren Nebbiolo mencerminkan berkembangnya minat wine premium di kalangan kelas menengah atas. Impor anggur Italia ke Indonesia tumbuh seiring membaiknya akses melalui ritel khusus dan e-commerce. Acara uji cita rasa semacam ini memberi rujukan bagi sommelier lokal dalam memilih stok.
Di sisi lain, konsumen Indonesia masih menghadapi bea masuk dan pajak tinggi yang mengerek harga wine Barolo. Hal ini membatasi edukasi terroir sekaligus membuat produk Roero yang lebih terjangkau menarik sebagai pintu masuk. Komunitas pencinta anggur di Jakarta dan Bali mulai menyelenggarakan sesi blind tasting mandiri.
Giuseppe Cortese keluar sebagai produsen Barbaresco terbaik lewat Rabajà 2023. Kebun di hamlet Rabaja termasuk 66 MGA Barbaresco paling dihormati. Anggur ini menampilkan stroberi, mawar remuk, lada merah muda, dan mineral besi halus.
Giovanni Rosso menyajikan Barolo Serra 2022 yang menonjol dari hari kedua dan ketiga. Castiglione Falletto secara keseluruhan meraih skor tertinggi sang jurnalis berkat tanin arsitektural dan aroma florals. Serralunga d'Alba dan Monforte d'Alba konsisten memuaskan selera.
Ke depan, rilis Barolo 2022 pada Januari 2026 akan menguji daya tahan pasar global. Vintage ini dinilai mudah diminum lebih awal karena keasaman lunak. Produsen diperkirakan akan menekankan narasi adaptasi iklim dalam pemasaran mereka.
Industri wine Piedmont menunjukkan bahwa transparansi uji cita rasa buta dapat menjadi standar baru. Konsorsium Albeisa yang beranggotakan 318 grower telah menjalankan metode ini selama 30 tahun. Praktik serupa berpotensi diadopsi asosiasi anggur nusantara untuk membangun kepercayaan konsumen.