Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman kembali melancarkan serangan masif dengan setidaknya 12 rudal yang menghantam provinsi Hadramout dan Marib pada Jumat (7/8). Aksi ini merupakan kelanjutan dari rentetan serangan drone dan rudal balistik sehari sebelumnya yang menargetkan pangkalan militer koalisi pimpinan Arab Saudi dan pemerintah resmi Yaman, mengakibatkan sedikitnya 30 prajurit tewas.
Ketegangan memuncak ketika serangan Houthi ke wilayah selatan Arab Saudi pada Kamis lalu melukai 11 warga sipil, termasuk seorang anak kecil. Pihak berwenang Arab Saudi memperingatkan adanya indikasi intelijen bahwa Houthi, dengan dukungan pengawasan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), berpotensi menargetkan infrastruktur energi krusial, pelabuhan, hingga bandara di kawasan tersebut.
Kondisi ini menandai eskalasi paling mematikan dalam perang saudara Yaman selama beberapa tahun terakhir. Konflik yang sempat mereda pasca-gencatan senjata 2022 kini kembali membara, dipicu oleh ketegangan regional yang meningkat sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Serangan terbaru ini secara spesifik menyasar formasi militer pemerintah Yaman seperti Homeland Shield Forces dan Emergency Forces yang dibentuk dengan dukungan Saudi. Pasukan ini merupakan garda terdepan dalam mengamankan perbatasan dan posisi strategis di Marib serta Hadramout. Tingginya angka korban jiwa terjadi karena serangan rudal menghantam kamp militer saat para prajurit sedang melakukan latihan pagi rutin.
Di sisi lain, juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengecam tindakan Houthi yang dianggap melanggar hukum humaniter internasional. Selain serangan terhadap fasilitas militer, Houthi juga telah memberlakukan blokade maritim yang mengganggu jalur distribusi minyak di Laut Merah serta menargetkan aset raksasa energi Saudi, Aramco.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah ini membawa dampak signifikan, terutama terkait stabilitas harga energi global. Sebagai negara pengimpor minyak, gangguan pada infrastruktur energi di Arab Saudi berpotensi memicu fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) domestik yang sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global.
Keamanan jalur pelayaran di Laut Merah juga menjadi perhatian serius bagi pelaku bisnis logistik nasional. Mengingat sebagian rute perdagangan Indonesia yang melintasi perairan tersebut, peningkatan intensitas serangan Houthi terhadap kapal tanker berbendera Saudi dapat meningkatkan biaya premi asuransi pengiriman barang, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir.
Analisis keamanan regional menunjukkan bahwa keterlibatan aktor negara dan non-negara dalam konflik ini menciptakan pola perang asimetris yang sulit diprediksi. Indonesia perlu memperkuat diplomasi untuk mendorong de-eskalasi, mengingat posisi Indonesia yang aktif dalam mendukung perdamaian global serta perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di wilayah konflik.
"Serangan rudal dan drone ini akan terus berlanjut sebagai respons terhadap apa yang kami sebut sebagai proksi Arab Saudi di tanah Yaman," ujar juru bicara Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan resminya. Kelompok ini menegaskan bahwa langkah militer diambil karena keyakinan mereka bahwa pemerintah Yaman sedang mempersiapkan serangan darat besar-besaran.
Sementara itu, pemerintah Yaman melalui duta besarnya di PBB, Abdullah al-Saadi, menuding Iran secara aktif mengirimkan peralatan militer melalui penerbangan ke Bandara Sanaa. Tuduhan ini menambah lapisan kompleksitas baru, di mana perang saudara di Yaman kini tidak lagi sekadar konflik domestik, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh kekuatan regional yang lebih luas.
Ke depan, tren konflik diprediksi masih akan mengalami pasang surut tergantung pada respons diplomatik dari kekuatan besar dunia. Jika sabotase terhadap infrastruktur energi terus dilakukan, pasar energi global akan berada dalam tekanan tinggi yang memaksa negara-negara importir untuk mencari diversifikasi sumber energi lebih cepat.
Upaya gencatan senjata saat ini tampak semakin jauh dari jangkauan. Tanpa intervensi diplomatik yang kuat dari pihak-pihak penengah, kawasan Teluk dan Yaman akan terus terjebak dalam siklus kekerasan yang tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.