Ketenangan relatif yang berlangsung lima hari di Timur Tengah hancur lebur pada Kamis (30/7) dini hari waktu setempat. Militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target di Iran, membalas serangan rudal Teheran ke pangkalan AS di Yordania serta serangan drone terhadap kapal tanker gas milik AS di Mesir sehari sebelumnya. Rentetan ledakan bergema di Pulau Qeshm, Iran, menandai kembalinya siklus balas dendam yang mengancam stabilitas regional.
Menurut laporan media lokal Iran yang dikutip Al Jazeera, setidaknya tiga ledakan terdengar di Pulau Qeshm pada dini hari Kamis. Saksi mata melaporkan rudal menghantam area pemukiman warga, meskan belum ada data korban jiwa resmi. Serangan ini dilancarkan setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan Tower 22 di Yordania, tempat personel AS bermarkas, yang tidak menimbulkan korban fatal namun memicu amarah Washington.
Presiden Donald Trump, yang sempat mengisyaratkan kelanjutan negosiasi damai, berubah nada tajam usai insiden tanker di Mesir. Ia menuduh Iran sebagai dalang serangan drone yang menghantam kapal penyimpanan gas Energos Winter di Pelabuhan Damietta, Rabu (29/7) sore. Api dari kebakaran kemudian menyebar ke kapal lain, Gaslog Salem, yang juga mengapung di area yang sama. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, mengonfirmasi insiden dan menilai ini sebagai tanda konflik melebar ke jalur strategis Laut Merah dan Mediterania.
Latar belakang eskalasi terbaru ini tak terpisah dari ketegangan jangka panjang soal program nuklir Iran dan kehadiran militer AS di wilayah. Sejak awal 2025, kedua negara terlibat pertukaran tembak terbatas di Irak, Suriah, dan Laut Merah. Jeda lima hari terakhir dinilai sebagai jendela diplomasi sempit yang dibuka oleh tim Trump usai pertemuan tidak resmi di Oman. Namun, kegagalan mencapai konsensus soal pengawasan fasilitas nuklir Fordow dan Natanz membuat kedua belah pihak kembali ke pilihan militer.
Di sisi lain, Rusia melancarkan gelombang rudal balistik ke Kyiv, Poltava, dan Kryvyi Rih pada pagi yang sama, Rabu (30/7). Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko memerintahkan warga berlindung ke shelter. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Volodymyr Zelensky memperingatkan Rusia menyiapkan ofensif besar-besaran. Koincedensi waktu antara eskalasi di Timur Tengah dan Ukraina memperkuat dugaan koordinasi strategis antara Iran dan Rusia, yang sejak 2022 mempererat kerja sama militer termasuk pengiriman drone Shahed-136.
Bagi Indonesia, meski geografis terpencil, dampak ekonomi terasa nyata. Harga minyak dunia (Brent) melonjak 4 persen ke USD 87 per barel pada perdagangan Jumat pagi, mendorong tekanan inflasi impor energi. Kementerian ESDM telah mengaktifkan tim mitigasi untuk memantau pasokan LPG dan bensin bersubsidi, mengingat 60 persen kebutuhan LPG domestis masih diimpor via jalur Laut Merah. Pertamina mengklaim stok aman hingga 30 hari ke depan, namun mengakui risiko kenaikan biaya flete jika asuransi kapal melonjak.
Analis geopolitik CSIS Jakarta, Dewi Fortuna Anwar, menilai eskalasi ganda ini menciptakan "krisis keamanan global dua front" yang memaksa Indonesia memilih sisi diplomatik yang hati-hati. "Kita tidak bisa memilih blok, tapi harus memastikan jalur perdagangan bebas dari ancaman militer," ujarnya saat dihubungi Jumat sore. Ia menambahkan, ASEAN perlu menguatkan peran di Forum ASEAN Regional Forum (ARF) mendorong de-eskalasi melalui dialog inklusif.
Sementara itu, tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan drone di Damietta. Houthi Yaman, proksi Iran yang rutin menyerang kapal di Laut Merah, belum mengeluarkan pernyataan. Pakar keamanan maritim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Andi Widjajanto, memperkirakan drone yang digunakan bermodel Shahed-101 versi diperbaiki dengan jangkau 2.500 kilometer, mampu dijangkau dari Iran atau Yaman. "Ini menandai evolusi ancaman asimetris di laut terbuka," katanya.
Langkah selanjutnya diantisipasi adalah respons Israel. Tel Aviv yang menganggap ancaman nuklir Iran sebagai merah, siap melakukan pencegahan pra-emptif jika Teheran mendekati ambang pembuatan senjata. Mossad dikabarkan telah mengaktifkan jaringan intelijen di wilayah untuk memantau gerakan rudal hypersonic Fattah-2 Iran. Sementara Kremlin menegaskan komitmen pertahanan kolektif dengan Iran melalui perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani Januari 2025.
Di tengah ketidakpastian, pasar global menunggu langkah Bank Sentral AS (The Fed) minggu depan. Jika harga minyak tetap di atas USD 85 per barel hingga akhir kuartal, tekanan inflasi AS bisa memaksa The Fed menahan penurunan suku bunga — berdampak pada aliran modal ke pasar emergin termasuk Indonesia. Bank Indonesia telah menyiapkan cadangan devisa USD 145 miliar sebagai buffer, namun mengakui ruang gerak politik moneter semakin sempit.
Keesokan harinya, Sabtu (1/8), Dewan Keamanan PBB dijadwalkan sidang darurat atas permintaan Prancis dan Inggris. Indonesia sebagai anggota non-tetap 2024-2025 diharapkan ikut mendorong resolusi penghentian senjata dan perlindungan navigasi bebas. Sejarah mencatat, setiap eskalasi di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb selalu menimbulkan gelombang kejut ke ekonomi global — dan kali ini, Indonesia tidak bisa hanya jadi penonton.