Kegembiraan luar biasa menyelimuti Afrika Selatan pada Kamis pagi setelah tim nasional sepak bola mereka berhasil memastikan diri melaju ke babak 32 besar Piala Dunia. Meski pertandingan melawan Korea Selatan berlangsung pada pukul 03.00 waktu setempat, ribuan pendukung tetap terjaga dan merayakan kemenangan tipis 1-0 yang sangat krusial tersebut.
Kemenangan ini terasa sangat emosional bagi publik Afrika Selatan. Keberhasilan menempati posisi kedua di Grup A sekaligus mengamankan tiket ke babak sistem gugur melawan Kanada di Los Angeles ini menjadi sejarah baru bagi tim yang telah lama menanti momen kebangkitan di panggung sepak bola internasional.
Bagi banyak warga, pencapaian ini merupakan penebusan dosa atas kegagalan pahit pada tahun 2010. Saat itu, Afrika Selatan mencatatkan sejarah kelam sebagai tuan rumah pertama yang gagal lolos dari babak grup, sebuah memori yang selama 16 tahun terakhir terus membayangi prestasi sepak bola negara tersebut.
Suasana di Soweto dan berbagai wilayah lainnya pun berubah menjadi lautan manusia yang merayakan kemenangan dengan cara unik. Banyak penggemar, baik tua maupun muda, terlihat turun ke jalan hanya dengan mengenakan piyama dan baju tidur. Mereka bernyanyi dan menari bersama, meluapkan rasa lega dan bangga yang telah lama terpendam.
Jurnalis olahraga Lorenz Kohler menuturkan bahwa atmosfer perayaan kali ini sangat berbeda dan terasa lebih emosional dibandingkan kesuksesan olahraga lainnya di negara tersebut. Meskipun Afrika Selatan memiliki prestasi mentereng di cabang rugbi dan kriket, sepak bola tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat karena popularitasnya yang universal.
Tokoh publik seperti komedian Trevor Noah turut meramaikan euforia ini melalui media sosial dengan membagikan video perayaan pribadinya. Mantan pemain timnas Marks Maponyane juga memberikan komentar senada, menyebut bahwa rasa kantuk akibat begadang demi menonton pertandingan ini sangat sepadan dengan sejarah yang baru saja diukir oleh tim nasional mereka.