Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memutuskan menarik dukungan untuk Gianni Infantino sebagai presiden FIFA, menambah tekanan pada pemimpin sepak bola dunia yang sudah terpojok. Keputusan ini diambil setelah rencana kontroversial Infantino untuk menjual saham minoritas kompetisi FIFA ke investor swasta melalui entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) mengguncang tata kelola sepak bola global.
Langkah FA Inggris mengikuti posisi serupa yang diambil Wales beberapa hari sebelumnya. Kedua federasi ini sebelumnya telah mengirim surat dukungan untuk kandidatur Infantino pada pemilihan ulang Maret mendatang, namun kini mundur sepenuhnya. Infantino memerlukan 106 suara dari 211 anggota FIFA untuk memenangkan masa jabatan keempat dan terakhirnya.
Pemicu krisis ini adalah proposal Infantino membentuk anak perusahaan komersial FFE yang akan mengelola acara utama FIFA termasuk Piala Dunia. Investor eksternal diundang membeli saham minoritas tanpa hak kendali. Thrive Eternal, firma venture capital milik Joshua Kushner — saudara ipar Jared Kushner, menantu Donald Trump — diperkirakan memimpin grup investor tersebut.
UEFA merespons dengan keras melalui surat hukum yang dikirimkan langsung ke Infantino. Badan pengelola sepak bola Eropa menyatakan "secara aktif mempertimbangkan tindakan hukum, arbitrase, dan/atau pengaduan regulatori" terkait rencana FFE. UEFA juga menuntut Infantino dan FIFA mempertahankan seluruh dokumen relevan, termasuk email, pesan instan (WhatsApp, Signal, Teams, Slack), SMS, surat-menyurat, dan catatan rapat.
Surat UEFA menuntut konfirmasi tertulis dalam lima hari kerja bahwa Infantino telah "menerima dan memahami pemberitahuan ini" serta telah mengambil "langkah segera untuk mempertahankan materi relevan sebagaimana diminta". Permintaan preservasi dokumen ini mencakup struktur pembayaran ke asosiasi anggota FIFA, termasuk desain, pemodelan, dasar hukum, persetujuan, dan komunikasi ke asosiasi anggota.
Infantino sebelumnya mengirim surat ke seluruh 211 asosiasi anggota FIFA menawarkan insentif finansial besar. Setiap federasi akan menerima 40 juta dolar AS (sekitar 630 miliar rupiah) jika mendukung proposal FFE, dengan 20 juta dolar (315 miliar rupiah) dapat dicairkan sebelum batas 19 September. Tawaran ini dinilai banyak pihak sebagai upaya membeli suara demi kelangsungan jabatannya.
Konfederasi sepak bola Asia (AFC) menyatakan solidaritas dengan UEFA dan CONCACAF dalam menentang rencana FFE. AFC memiliki tujuh suara di Dewan FIFA, UEFA sembilan, dan CONCACAF lima. Gabungan ketiga konfederasi ini mencapai 21 suara — melebihi ambang 19 suara yang diperlukan untuk memaksa rapat darurat Dewan FIFA. Rapat tersebut harus digelar dalam dua minggu jika terpicu.
Namun, Infantino masih mempertahankan basis dukungan signifikan di luar Eropa. Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Sri Lanka telah menyatakan dukungan terbuka. Afrika (54 suara), CONMEBOL Amerika Selatan (10 suara), dan Oseania (11 suara) belum mengkritik rencana FFE secara publik. Total suara di luar Eropa dan CONCACAF mencapai 121 — lebih dari cukup untuk mengamankan 106 suara yang dibutuhkan Infantino.
Analis menilai UEFA sadar harus berhati-hati agar tidak terlihat mendikte keputusan negara-negara di benua lain. Upaya diplomasi diam-diam sedang berlangsung untuk meyakinkan federasi di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan bergabung dalam pemberontakan. Tanpa pecahan di blok-blok tersebut, upaya menggeser Infantino melalui mekanisme konstitusional FIFA akan sangat sulit.
Kasus ini mengungkap retak fundamental dalam tata kelola sepak bola global: benturan antara model komersialisasi agresif yang didorong Infantino dan keinginan konfederasi regional menjaga kontrol atas aset kompetisi. Rencana FFE secara efektif memindahkan kekuasaan komersial dari konfederasi ke entitas pusat yang dikontrol FIFA dan investor pribadi.
Jika Infantino bertahan hingga Maret, pemilihan akan menjadi uji kekuatan antara blok Eropa-North America dan sisa dunia. Namun, tekanan hukum dari UEFA dan kerusakan reputasi dari tuntutan preservasi dokumen menciptakan risiko jangka panjang bagi legitimasi kepemimpinan FIFA, terlepas dari hasil pemilihan.