Gaya Hidup

Desainer Singapura Faezah Shaharuddin Bawa Referensi Budaya Melayu ke Panggung Furnitur Global

Ringkasan

  • Desainer Singapura Faezah Shaharuddin melalui Studio Kallang memperkenalkan furnitur dengan nama-nama kue tradisional Melayu seperti Onde, Agar, dan Biskut ke pasar internasional, menantang dominasi estetika Eropa dan Jepang.

Faezah Shaharuddin tidak pernah memandang furnitur sekadar sebagai benda fungsional. Baginya, setiap kursi, meja, dan cermin adalah kanvas untuk menceritakan kenangan kolektif dan identitas budaya. Pendekatan itu telah membawanya dari bengkel kayu di Asia Tenggara ke panggung Milan Design Week dalam waktu lima tahun sejak Studio Kallang didirikan pada 2020.

Nama-nama koleksinya — Onde, Agar, Biskut — sengaja dipilih dari kue dan jajanan tradisional Melayu yang akrab di telinga warga Singapura. Pilihan itu bukan sekadar gaya penamaan, melainkan pernyataan politik desain: memasukkan kosakata visual Asia Tenggara ke dalam percakapan global yang selama ini didominasi tradisi kerajinan Italia, dekoratif Prancis, dan minimalis Skandinavia.

"Saya ingin menggunakan hal-hal yang otentik bagi pengalaman dan budaya saya, dan membuatnya dinilai setara," ujar Faezah dalam wawancara dengan Channel NewsAsia. Ia menegaskan Studio Kallang hanyalah media — furnitur menjadi bahasa untuk mengekspresikan memori budaya.

Perspektif itu terbentuk sejak masa kanak-kanak. Faezah sering mengikuti ibunya, Sharifah Maznah, berkeliling gudang kayu dan bengkel furnitur di seluruh Asia Tenggara. Maznah mendirikan Second Charm pada 2001, bisnis furnitur vintage yang kemudian berkembang menjadi Gamar, usaha keluarga yang memproduksi koleksi sendiri dengan kerajinan tangan di Indonesia.

Di rumah, atmosfer intelektual tidak kaya di bengkel. Ayahnya memimpin Departemen Studi Melayu di Universitas Nasional Singapura, sedangkan ibunya menyelesaikan doktor di Studi Asia Tenggara di London. Percakapan tentang sejarah, sastra, dan arsitektur kayu jati beriringan dengan negosiasi bisnis dan detail teknis kerajinan.

Faezah sendiri tidak belajar desain produk. Ia lulusan komunikasi visual dari University of Washington, Seattle. Baru saat pandemi memaksa pulang ke Singapura, ia melihat bengkel-bengkel masa kecil dengan mata baru. Apa yang dulu dianggap biasa — kayu jati, rotan, tangan-tangan kerajinan — tiba-tiba terbaca sebagai bahasa visual kaya yang jarang diakui desain kontemporer.

Koleksi pertamanya, meja samping tempat tidur bernama Mamun (dari bahasa Arab "teman tepercaya"), mengungkap insting awalnya: menyematkan narita dan kepribadian pada benda sehari-hari. Cermin Onde dibingkai bola kayu besar yang terinspirasi dari onde-onde berkelapa, sementara Agar dan Biskut mengangkat bentuk dan tekstur jajanan tradisional ke dalam siluet furnitur modern.

Produksi tetap mengandalkan jaringan kerajinan Indonesia yang telah dibangun Gamar selama puluhan dekade. Sekitar 40 pengrajin di Indonesia memproduksi furnitur tangan, sementara showroom Gamar di Kallang Avenue melayani kustomisasi untuk pemilik rumah. Faezah memisahkan kedua entitas: Gamar untuk sisi pragmatis bisnis, Studio Kallang untuk praktik artistik.

Kehadiran Studio Kallang relevan bagi industri kreatif Indonesia. Negeri ini punya warisan kerajinan kayu dan rotan yang mendalam — dari Jepara, Cirebon, hingga Bali — namun sering terposisi sebagai pabrik OEM bagi brand asing. Model Faezah menunjukkan alternatif: desainer lokal yang menguasai narasi budaya sendiri, bekerja sama dengan pengrajin sebagai mitra, bukan sekadar tenaga kerja.

Beberapa desainer Indonesia seperti Alvin Tjitrowirjo dan Dhani Sutanto telah menorehkan nama di panggung internasional dengan pendekatan serupa. Namun, skala dan sistem pendukung — mulai dari perlindungan hak kekayaan intelektual desain, akses pasar global, hingga ekosistem pembiayaan — masih jadi tantangan besar bagi kreator lokal agar bisa mereplikasi jalur Faezah.

"Furnitur hanyalah medianya," mengulang Faezah. Frasa itu jadi pengingat: nilai jual tinggi bukan datang dari material mahal, tapi dari kedalaman cerita yang dibawa. Bagi Indonesia yang kaya warisan budaya material, pelajaran itu layak dipetik — asal ada keberanian menamai karya dengan identitas sendiri, bukan meniru kosakata orang lain.

Mengapa Ini Penting

Kisah Faezah Shaharuddin bukan sekadar profil desainer sukses, melainkan studi kasus bagaimana narasi budaya lokal bisa jadi aset komersial global tanpa kehilangan akar. Bagi Indonesia yang punya jutaan pengrajin kayu dan rotan, model ini menawarkan jalan keluar dari jebakan OEM: desainer sebagai pemilik narasi, pengrajin sebagai kolaborator, dan warisan budaya sebagai diferensiasi pasar. Jika ekosistem lokal — dari kampus desain, asosiasi industri, hingga kebijakan hak cipta — mendukung model serupa, furnitur Indonesia bisa bergerak dari 'made in Indonesia' ke 'designed in Indonesia' dengan harga dan posisi pasar yang jauh lebih tinggi.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
8 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit