Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 1-2 Juli 2026. Lawatan ini menjadi momen bersejarah karena merupakan kunjungan pertama Lukashenko dalam 13 tahun terakhir. Kedatangannya disambut langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Turut mendampingi delegasi tersebut adalah putra sang Presiden, Dmitry Lukashenko, yang telah tiba lebih awal untuk melakukan koordinasi dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman guna membahas potensi kerja sama bilateral.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari diplomasi yang dibangun oleh Presiden Prabowo Subianto saat berkunjung ke Minsk, Belarus, pada Juli 2025 lalu. Dalam pertemuan sebelumnya, Prabowo menjadi salah satu dari segelintir kepala negara yang berkesempatan mengunjungi kediaman pribadi Lukashenko di Ozyorny. Keakraban yang terjalin antara kedua pemimpin ini menjadi fondasi kuat bagi peningkatan hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan Belarus.
Salah satu sorotan utama dalam kunjungan kali ini adalah keputusan Lukashenko untuk menginap di Istana Negara, Jakarta. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa permintaan tersebut datang langsung dari pihak Belarus sebagai bentuk penghormatan. Meskipun biasanya kepala negara tamu memilih akomodasi hotel, Presiden Prabowo secara khusus menginstruksikan agar fasilitas di Istana Negara disiapkan guna memberikan kenyamanan maksimal bagi tamu kehormatan tersebut.
Simbol persahabatan yang erat juga terlihat saat prosesi penandatanganan buku tamu kenegaraan di ruang kredensial. Setelah menandatangani buku tamu, Lukashenko secara spontan memberikan pena yang digunakannya kepada Presiden Prabowo. Momen tersebut menjadi simbol diplomasi personal yang hangat di antara kedua pemimpin, di mana Prabowo menerima pemberian tersebut dengan apresiasi tinggi sebelum melanjutkan agenda diskusi delegasi.
Dalam rangkaian kunjungannya, kedua negara juga membahas penguatan kerja sama strategis. Salah satu poin krusial adalah rencana Indonesia untuk membuka Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belarus. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk mempererat hubungan diplomatik serta mempermudah komunikasi dan koordinasi antarnegara di masa depan.
Selain aspek diplomatik, agenda ini juga mencakup diskusi mengenai konektivitas dan potensi ekonomi, termasuk rencana pembukaan rute penerbangan langsung. Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperluas jangkauan kerja sama yang tidak hanya terbatas pada sektor politik, tetapi juga mencakup sektor ekonomi dan transportasi yang dapat memberikan dampak positif bagi kedua bangsa.