Australia memproyeksikan adanya kenaikan pendapatan ekspor sebesar A$38 miliar atau setara dengan US$26 miliar. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas dan energi global yang terjadi sebagai konsekuensi langsung dari eskalasi konflik di Iran.
Menurut laporan terbaru dari Departemen Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia yang dirilis pada Jumat, ekspor sumber daya negara tersebut diperkirakan akan meningkat hampir 3 persen, mencapai A$416 miliar pada tahun fiskal yang berakhir hingga Juni 2027. Angka ini mencerminkan optimisme pemerintah di tengah ketidakpastian pasar energi dunia.
Estimasi pendapatan tambahan ini didasarkan pada asumsi bahwa gangguan perdagangan global akan terus berlanjut hingga akhir Juni 2026. Pemerintah Australia bahkan memperhitungkan potensi keuntungan tambahan sebesar A$7 miliar jika gangguan distribusi energi di kawasan tersebut masih terhambat hingga Agustus 2026.
Konflik di Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz telah mengubah peta pasar energi dan komoditas global secara drastis. Terbatasnya akses produsen di Teluk Persia ke pembeli internasional telah memicu kenaikan harga energi secara signifikan, yang secara tidak langsung memberikan keuntungan besar bagi eksportir alternatif seperti Australia.
Departemen terkait sebelumnya sempat menahan publikasi laporan pada Maret lalu akibat tingginya tingkat ketidakpastian pasar yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah. Padahal, pada Desember tahun lalu, departemen tersebut justru memprediksi adanya penurunan pendapatan ekspor untuk tahun berjalan, yang kini berbalik menjadi proyeksi pertumbuhan yang solid.
Industri Gas Alam Cair (LNG) menjadi sektor yang paling diuntungkan dari situasi geopolitik ini dengan perkiraan tambahan pendapatan mencapai A$20 miliar. Menariknya, pemerintah Australia tetap pada pendiriannya untuk tidak menaikkan pajak sektor tersebut, meskipun terdapat tekanan dari publik melalui jajak pendapat yang menginginkan kebijakan fiskal lebih ketat bagi perusahaan energi.