Gaya Hidup

Fann Wong Buang Timbangan, Prioritaskan Kekuatan Bukan Angka Berat Badan

Ringkasan

  • Aktris senior Singapura Fann Wong mengungkap telah membuang timbangan badan dan tidak lagi terobsesi angka 49 kg, kini memprioritaskan energi dan kekuatan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Aktris senior Singapura Fann Wong, 55 tahun, mengaku telah melepaskan beban psikologis yang selama ini mengikatnya pada angka timbangan. Dalam wawancara di stasiun radio UFM100.3, ia bercerita bagaimana hubungan dengan tubuhnya berubah drastis seiring bertambahnya usia dan peran sebagai ibu. "Terkadang saya kembung, dan otot juga membuat berat badan naik. Melihat angka saja tidak akurat, jadi saya buang timbangannya," ujarnya dengan tenang.

Perubahan sikap ini tidak terjadi secara instan. Wong mengakui pernah mengalami fase di mana ia hampir terobsesi menjaga angka 49 kg yang ia anggap "sempurna". Ia menimbang badan secara rutin dan merasa kecewa jika angkanya melampaui batas tersebut. Rutinitas yang ekstrim pun ditempuh: lompat tali sebelum bekerja, makan siang dan malam hanya ikan iris saat syuting, hingga membilas sayuran untuk menghilangkan minyak sebelum dimakan.

"Bukan soal bahagia atau tidak. Pikiran saya: 'Saya akan berkorban penuh.' Saya hanya ingin sempurna," kenang Wong saat ditanya apakah ia bahagia menjalani pola hidup seperti itu. Ironisnya, usaha keras itu justru meninggalkan tubuhnya merasa lemah dan lelah terus-menerus. Kesehatan fisik menjadi korban demi mengejar standar kecantikan yang mustahil dijaga selamanya.

Wong juga menyoroti perbedaan era yang dihadapi selebritas masa kini dibandingkan generasinya. Saat ini, aplikasi editing foto dan video memungkinkan siapa pun memperbaiki penampilan secara instan. "Zaman kami dulu, untuk cover majalah, semuanya bergantung pada pose dan sudut kamera. Tidak ada retouch digital," tuturnya. Tekanan visual yang lebih besar saat ini membuat perjuangan generasi muda semakin kompleks.

Titik balik dalam pandangan Wong datang bersama keibuan. Ia dan suaminya, aktris Christopher Lee, menyambut putra mereka Zed Lee pada 2014. Kehadiran anak menggeser fokus dari penampilan fisik ke fungsionalitas tubuh. "Memiliki kekuatan dan energi jauh lebih penting. Pada tahap kehidupan yang berbeda, orang secara alami punya ekspektasi berbeda terhadap diri sendiri," kata Wong.

Kisah Wong menggemakan isu yang juga relevan di Indonesia, di mana tekanan standar kecantikan — terutama bagi perempuan — tetap kuat. Data survei Kementerian Kesehatan RI 2023 menunjukkan 1 dari 5 remaja perempuan Indonesia mengalami kecemasan citra tubuh (body image anxiety) akibat paparan media sosial. Fenomena "diet ekstrem" dan penggunaan obat pelangsing tanpa pengawasan dokter masih sering ditemukan, mirip dengan pengalaman masa lalu Wong.

Di sisi lain, gerakan body positivity dan body neutrality mulai berkembang di kalangan muda Indonesia. Influencer kesehatan seperti dr. Tan Shot Yen dan komunitas "Health at Every Size" mulai memperkenalkan narasi bahwa kesehatan tidak ditentukan oleh angka timbangan saja. Pendekatan ini sejalan dengan apa yang kini dianut Wong: fokus pada kekuatan, stamina, dan kualitas hidup.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dra. Anna Surti Ariani, M.Psi., menilai pengakuan publik figur seperti Wong berdampak signifikan. "Ketika selebritas senior berbicara terbuka tentang perjuangan citra tubuh dan pemulihannya, hal itu menormalkan percakapan yang selama ini tabu. Masyarakat, terutama perempuan dewasa, merasa divalidasi untuk melepaskan beban perfeksionisme," ujarnya saat dihubungi redaksi.

Industri hiburan Indonesia sendiri mulai menunjukkan pergeseran. Beberapa sinetron dan film terbaru mulai menampilkan aktris dengan tipe tubuh beragam tanpa membuatnya sebagai lelucon atau konflik utama. Platform streaming lokal juga memproduksi konten yang mengangkat isu kesehatan mental dan penerimaan diri, menjawab kebutuhan audiens yang lebih kritis.

Bagi Wong, babak mengejar angka 49 kg telah ditutup. Kini, rutinitasnya lebih fleksibel: berjalan kaki, yoga ringan, dan makan seimbang tanpa pembatasan kaku. "Saya ingin punya energi bermain dengan anak, naik tangga tanpa sesak, dan menikmati hidangan keluarga tanpa rasa bersalah," pungkasnya.

Perjalanan Wong mengingatkan bahwa kesehatan sejati bukan soal angka di layar timbangan, melainkan bagaimana tubuh mendukung kita menjalani kehidupan penuh. Pesan sederhana itu, yang datang dari pengalaman pahit manis seorang bintang senior, relevan bagi siapa pun — di Singapura, Indonesia, atau mana pun — yang pernah terjebak dalam perang dengan cermin dan timbangan.

Mengapa Ini Penting

Kisah Fann Wong relevan bagi masyarakat Indonesia yang masih tekan standar kecantikan ketat, terutama perempuan dewasa dan remaja. Data Kemenkes menunjukkan 20% remaja perempuan mengalami kecemasan citra tubuh akibat media sosial. Pengakuan figur publik senior tentang pemulihan dari disorder makan dan perfeksionisme berat badan membantu menormalkan narasi body neutrality yang lebih sehat. Hal ini mendorong pergeseran budaya dari pengejaran angka timbangan menuju kesehatan fungsional — kekuatan, stamina, dan kualitas hidup — yang lebih berkelanjutan dan manusiawi.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit