Gedung-gedung gereja tua di berbagai negara Eropa kini semakin banyak yang beralih fungsi menjadi masjid. Tren ini dipicu oleh penurunan drastis jumlah jemaat Kristen di tengah meningkatnya populasi imigran Muslim, yang memaksa pengelola gereja melepas aset mereka demi menekan biaya pemeliharaan yang kian membengkak.
Salah satu contoh nyata adalah Gereja Methodist di London yang kini dikenal sebagai Brick Lane Masjid. Bangunan yang berdiri sejak 1743 itu dibeli oleh komunitas Muslim asal Asia Selatan untuk mengakomodasi kebutuhan tempat ibadah yang terus meningkat. Pola serupa ditemukan di Jerman, di mana Gereja Lutheran Capernaum di Hamburg berubah menjadi Masjid Al-Nour pada 2018. Bahkan di Belanda, Masjid Al Hikmah yang menjadi pusat kegiatan diaspora Indonesia, menempati bekas Gereja Immanuel yang dibeli pengusaha nasional pada era 1990-an.
Data statistik menunjukkan penurunan religiusitas yang signifikan di Eropa. Di Jerman, lebih dari 500 ribu jemaat meninggalkan gereja Katolik pada 2022. Fenomena ini tidak terlepas dari krisis kepercayaan akibat skandal pelecehan seksual oleh oknum klerus serta beban pajak gereja yang mencapai 8-9 persen dari penghasilan jemaat. Kondisi serupa terjadi di Inggris, di mana sensus 2021 mencatat jumlah penduduk yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen turun drastis merosot di bawah 50 persen untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, mengakui bahwa kelangsungan gereja saat ini berada dalam tantangan berat. Ia bahkan menyatakan bahwa masa depan institusi gereja tidak lagi bergantung pada upaya administratif atau manajerial semata, melainkan pada pemeliharaan Tuhan. Pernyataan ini mencerminkan keputusasaan otoritas gereja dalam membendung arus sekularisasi yang melanda benua tersebut.
Di balik pergeseran fisik bangunan, terdapat ketegangan sosiopolitik yang nyata. Kelompok sayap kanan di Eropa kerap menjadikan isu alih fungsi ini sebagai amunisi untuk menyuarakan sentimen anti-imigran. Mereka membingkai perubahan fungsi gereja menjadi masjid sebagai ancaman terhadap identitas budaya dan agama Eropa, yang berpotensi memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Analisis pengamat kebijakan publik, Amrou Farouk, menyoroti bahwa isu ini adalah residu sejarah yang kompleks. Memori kolektif tentang Hagia Sophia di Turki atau masjid-masjid bersejarah di Spanyol yang berubah menjadi gereja, kini kembali diputar sebagai narasi politik oleh kelompok ekstremis. Muslim di Eropa dituntut untuk bersikap dewasa dalam merespons fenomena ini agar tidak terjebak dalam perang narasi yang justru merugikan komunitas mereka sendiri.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menawarkan refleksi tentang pentingnya moderasi beragama dan toleransi dalam ruang publik. Jika di Eropa alih fungsi terjadi karena krisis jemaat, di Indonesia keberadaan rumah ibadah justru cenderung tumbuh beriringan dengan dinamika demografi. Perbedaan pola ini menunjukkan bahwa dinamika religiusitas di Barat dan Timur memiliki akar persoalan yang sangat berbeda.
Krisis identitas yang dialami Eropa saat ini bukan hanya soal agama, melainkan juga kegagalan integrasi sosial. Penutupan sekitar 250 gereja setiap tahunnya menjadi indikator bahwa institusi keagamaan tradisional sedang kehilangan relevansinya bagi generasi muda Eropa. Hal ini membuka ruang bagi ideologi lain, termasuk Islam, untuk mengisi kekosongan spiritual maupun fisik di ruang-ruang publik.
Ke depan, tren penjualan aset gereja diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan memudarnya keterikatan warga Eropa pada dogma Kristen formal. Gereja-gereja yang tidak mampu membiayai operasional akan terus mencari pembeli, dan kelompok imigran yang memiliki basis komunitas kuat akan tetap menjadi pembeli potensial.
Namun, tantangan terbesar bagi komunitas Muslim di Eropa adalah bagaimana mengelola bangunan tersebut tanpa memicu resistensi sosial yang lebih besar. Mereka harus memastikan bahwa fungsi masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga pusat integrasi yang mampu meredam prasangka buruk dari kelompok sayap kanan yang kian mendominasi wacana politik.