Singapura tengah diramaikan oleh antusiasme luar biasa terhadap film asal Tiongkok berjudul 'Dear You'. Film yang diproduksi dengan anggaran terbatas dan melibatkan banyak aktor non-profesional ini mendadak menjadi perbincangan hangat setelah tiket penayangannya terjual habis dalam hitungan jam. Fenomena ini memicu perdebatan publik yang luas mengenai kebijakan bahasa di Singapura, terutama terkait pembatasan penggunaan bahasa Tionghoa non-Mandarin atau yang sering disebut sebagai 'dialek' di media arus utama.
Otoritas Pengembangan Media Infokom (IMDA) sebelumnya memutuskan bahwa versi yang dirilis secara umum haruslah versi sulih suara Mandarin. Kebijakan ini menuai kritik tajam dari sineas lokal seperti Eric Khoo dan Jack Neo, yang menyebut aturan tersebut sudah ketinggalan zaman. Banyak warga Singapura bahkan menyatakan kesediaan untuk pergi ke Johor Bahru, Malaysia, hanya untuk menyaksikan film tersebut dalam bahasa aslinya, Teochew, demi mendapatkan pengalaman otentik yang tidak bisa mereka temukan di bioskop domestik.
Ketertarikan terhadap film berbahasa daerah bukanlah hal baru. Sebelumnya, film Thailand 'How To Make Millions Before Grandma Dies' yang mengandung percakapan Teochew juga berhasil menyentuh emosi penonton di Singapura. Hal serupa terjadi dua dekade lalu pada film 'Money No Enough' karya Jack Neo yang menggunakan bahasa Hokkien. Fenomena ini menunjukkan adanya kerinduan kolektif terhadap bahasa-bahasa yang perlahan mulai hilang dari percakapan sehari-hari masyarakat Singapura.
Para pengamat menilai bahwa akar dari fenomena ini bukan sekadar protes terhadap kebijakan pemerintah, melainkan bentuk duka cita kultural. Kampanye 'Speak Mandarin' yang diluncurkan sejak 1979 memang sangat sukses menjadikan Mandarin sebagai bahasa pemersatu, namun di sisi lain, kebijakan ini secara tidak langsung meminggirkan bahasa seperti Hokkien, Teochew, dan Kanton. Saat ini, bahasa-bahasa tersebut bukan lagi menjadi ancaman bagi Mandarin, melainkan bagian dari sejarah yang terancam punah.
Data sensus tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya 1,4 persen warga Tionghoa Singapura berusia 5 hingga 34 tahun yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa utama di rumah. Angka ini kontras dengan kelompok usia 60 tahun ke atas yang masih mempertahankan bahasa tersebut. Penonton yang memadati bioskop saat ini mayoritas bukanlah penutur fasih, melainkan generasi yang ingin terhubung kembali dengan akar budaya dan memori masa kecil mereka.
Pada akhirnya, kebijakan media di Singapura perlu disesuaikan dengan realitas sosial saat ini. Mempertahankan batasan ketat terhadap penggunaan bahasa daerah di media arus utama dianggap tidak lagi relevan dengan lanskap budaya Singapura tahun 2026. Respon publik terhadap 'Dear You' adalah sinyal kuat bahwa masyarakat merindukan keberagaman bahasa sebagai identitas, sekaligus pengingat bahwa bahasa adalah pembawa memori kolektif yang tak ternilai harganya.