Internasional

Fenomena 'Kembali ke Tungku': Dilema Lulusan Universitas di China Pilih Sekolah Vokasi

Fenomena 'Kembali ke Tungku': Dilema Lulusan Universitas di China Pilih Sekolah Vokasi

Ringkasan

  • Lulusan universitas di China kini ramai mendaftar sekolah teknik demi mendapatkan keterampilan praktis di tengah sulitnya mencari kerja.

Di tengah ketatnya persaingan pasar tenaga kerja di China, fenomena unik tengah melanda para lulusan universitas. Banyak dari mereka yang memilih untuk 'kembali ke tungku', sebuah istilah yang merujuk pada keputusan para pemegang gelar sarjana untuk mendaftar kembali ke sekolah kejuruan atau teknik guna mempelajari keterampilan praktis yang lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Tren ini muncul sebagai respons atas kesulitan yang dihadapi lulusan baru dalam mencari pekerjaan yang layak. Data dari Chinese Society for Technical and Vocational Education mencatat lonjakan signifikan jumlah institusi yang menawarkan program formal bagi lulusan universitas, yakni meningkat dari 26 sekolah pada tahun 2023 menjadi 45 sekolah pada awal tahun 2025.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh platform rekrutmen Zhaopin pada tahun 2024, sebanyak 52,2 persen lulusan universitas meyakini bahwa menempuh pendidikan di sekolah teknik akan secara signifikan meningkatkan prospek karier mereka. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi terhadap pendidikan vokasi yang kini mulai dipandang sebagai jalur penyelamat di tengah stagnasi ekonomi.

Menanggapi tingginya minat tersebut, berbagai perguruan tinggi vokasi mulai menawarkan kelas teknis penuh waktu serta kursus keterampilan jangka pendek. Strategi pemasaran yang digunakan pun cukup agresif, seperti menjanjikan jaminan penempatan kerja hingga peluang magang di perusahaan milik negara, bahkan beberapa sekolah membebaskan ujian masuk bagi pendaftar.

Namun, realita di lapangan sering kali tidak seindah janji yang dipromosikan. Meskipun sekolah kejuruan menawarkan secercah harapan, banyak lulusan yang justru menghadapi kenyataan pahit setelah menyelesaikan program tambahan tersebut, di mana pasar kerja tetap tidak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal akibat perlambatan ekonomi di berbagai sektor.

Sebagai contoh, seorang lulusan teknik sipil bernama Zhou Jingbo terpaksa mengambil jalur ini karena sulitnya mendapatkan posisi di bidang desain interior akibat lesunya sektor properti. Ia memilih mendalami otomatisasi kelistrikan di Zhengzhou Technician College dengan harapan keterampilan teknis yang spesifik dapat membantunya mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini mencerminkan tantangan global mengenai kesenjangan antara kurikulum akademik universitas dengan kebutuhan nyata industri yang terus berubah. Bagi Indonesia, tren ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif dan memiliki link-and-match yang kuat dengan sektor industri agar lulusan tidak terjebak dalam pengangguran struktural.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit