Internasional

RIMPAC 2026: Integrasi Sistem Tanpa Awak Dominasi Latihan Perang Maritim Global

RIMPAC 2026: Integrasi Sistem Tanpa Awak Dominasi Latihan Perang Maritim Global

Ringkasan

  • Latihan RIMPAC 2026 menyoroti peran strategis sistem tanpa awak dalam peperangan maritim modern, dengan partisipasi aktif TNI AL.

Jakarta – Latihan perang maritim internasional terbesar di dunia, Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026, resmi menjadi panggung utama bagi demonstrasi kecanggihan sistem tanpa awak. Komandan Kelompok Pengendalian Latihan Gabungan RIMPAC 2026, Laksamana Muda Suzanne Bailey, menegaskan bahwa integrasi teknologi ini telah menjadi fokus utama dalam strategi pertahanan maritim modern.

RIMPAC 2026, yang berlangsung sejak 24 Juni hingga 31 Juli 2026, melibatkan sekitar 25.000 personel dari 31 negara, termasuk Indonesia. Latihan dua tahunan yang dipimpin oleh Amerika Serikat ini bertujuan untuk memperkuat interoperabilitas antar-negara dalam menghadapi dinamika keamanan global yang semakin kompleks.

Dalam konferensi pers virtual, Laksamana Muda Bailey menekankan bahwa sistem tanpa awak kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan komponen vital dalam operasi laut. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di bidang ini, Bailey meyakini bahwa teknologi tersebut mampu meningkatkan ketahanan operasional dan memberikan fleksibilitas taktis yang lebih luas bagi angkatan laut di seluruh dunia.

Selain memberikan keunggulan teknis, penggunaan sistem tanpa awak dinilai mampu menghadirkan tantangan yang lebih sulit diprediksi bagi pihak lawan. Integrasi ini diharapkan dapat memperkuat fungsi pencegahan (deterrence) terhadap segala bentuk agresi maritim, sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan misi-misi militer yang berisiko tinggi.

Sementara itu, kontingen Indonesia melalui Korps Marinir TNI AL menunjukkan peran aktifnya dalam latihan ini. Tidak hanya mengikuti simulasi tempur jarak dekat dan serangan udara, prajurit Marinir Indonesia turut membagikan keahlian khusus mereka, yakni teknik bertahan hidup di hutan atau jungle survival, kepada prajurit dari negara-negara mitra.

Komandan Unsur Tugas Marinir Indonesia RIMPAC 2026, Letkol Marinir Huda Prawira, menyatakan bahwa pertukaran pengetahuan ini sangat krusial. Pengalaman TNI dalam beroperasi di medan hutan dan pegunungan menjadi nilai tambah yang diakui oleh komunitas internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kolaborasi militer global di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Penerapan sistem tanpa awak dalam RIMPAC 2026 menunjukkan pergeseran paradigma perang maritim menuju otomatisasi yang lebih efisien. Bagi Indonesia, keterlibatan dalam latihan ini penting untuk memodernisasi alutsista dan meningkatkan kesiapan operasional menghadapi ancaman keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit