Internasional

Peru Berupaya Transformasi Hubungan Ekonomi dengan China Melampaui Sektor Komoditas

Peru Berupaya Transformasi Hubungan Ekonomi dengan China Melampaui Sektor Komoditas

Ringkasan

  • Peru berupaya mendiversifikasi hubungan ekonominya dengan China untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor mineral mentah dan beralih ke pembangunan infrastruktur.

Pemerintah Peru kini tengah mengupayakan langkah strategis untuk mengubah arah hubungan ekonominya dengan China. Selama ini, ketergantungan yang tinggi pada ekspor bahan mentah menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi negara tersebut. Duta Besar Peru untuk China, Carlos Vasquez, menegaskan bahwa negaranya kini mendesak adanya diversifikasi kerja sama yang lebih luas, tidak lagi hanya berfokus pada pengiriman mineral mentah.

Dalam paparannya di World Peace Forum yang diselenggarakan oleh Universitas Tsinghua di Beijing, Vasquez mengungkapkan bahwa Peru sedang aktif mencari investasi di sektor infrastruktur. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik agar lebih tangguh terhadap fluktuasi pasar global. Diversifikasi ini dianggap krusial untuk menciptakan nilai tambah bagi produk-produk nasional Peru.

Data menunjukkan bahwa hubungan dagang antara kedua negara saat ini masih didominasi oleh segelintir komoditas utama. Tembaga, bijih besi, dan tepung ikan tercatat menyumbang lebih dari 90 persen total ekspor Peru ke pasar China. Meskipun permintaan global terhadap komoditas tersebut sedang tinggi, ketergantungan pada produk mentah dinilai sangat berisiko bagi keberlanjutan jangka panjang.

Vasquez secara gamblang menyatakan bahwa Peru tidak memiliki kendali atas penentuan harga komoditas yang mereka ekspor. Harga tersebut sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar internasional yang seringkali tidak menentu. Hal ini menciptakan kerentanan ekonomi yang signifikan, di mana negara penghasil seringkali menjadi pihak yang paling terdampak ketika harga global merosot.

Di sisi lain, ekonomi Peru mencatatkan pertumbuhan sebesar 3 persen pada tahun lalu dan diproyeksikan mencapai 3,6 persen pada tahun ini, berkat tingginya permintaan global terhadap mineral seperti tembaga dan seng. Meski angka pertumbuhan tersebut terlihat positif, Vasquez menekankan bahwa model ekonomi yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah bagi industrialisasi China bukanlah strategi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Transformasi yang diinginkan Peru mencakup transfer teknologi dan pengembangan infrastruktur yang lebih dalam. Dengan melibatkan China dalam pembangunan infrastruktur yang lebih komprehensif, Peru berharap dapat membangun ekosistem industri yang lebih mandiri. Upaya ini mencerminkan tren global di mana negara-negara berkembang mulai menuntut porsi yang lebih adil dalam rantai pasok global agar tidak sekadar menjadi penyedia bahan baku bagi negara industri besar.

Mengapa Ini Penting

Langkah Peru menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam mengelola hilirisasi industri agar tidak terjebak dalam ekspor bahan mentah jangka panjang. Bagi pelaku industri di Indonesia, diversifikasi infrastruktur yang dikejar Peru menunjukkan peluang investasi strategis untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional di tengah ketergantungan pada pasar China.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit