Ferrari Indonesia melalui PT Eurokars Prima Utama memperkenalkan 849 Testarossa dalam acara peluncuran di kawasan PIK, Jakarta Utara, pada Kamis (16/7/2026). Mobil sport plug-in hybrid (PHEV) berjenis berlinetta ini menempati posisi puncak lini produk Maranello, mewarisi warisan SF90 Stradale namun membawa lompatan teknologi signifikan di sektor powertrain, aerodinamika, dan elektronika kendali.
Jantung 849 Testarossa adalah mesin V8 twin-turbo berkapasitas 3,9 liter yang menghasilkan 830 HP pada 7.500 rpm dan torsi 842 Nm pada 6.500 rpm. Tiga motor listrik — dua di gandar depan dan satu MGU-K di belakang yang dikembangkan dari pengalaman Scuderia Ferrari di Formula 1 — menambah 220 HP, mendorong total output sistem menjadi 1.050 HP. Angka ini 50 HP lebih tinggi dibanding pendahulunya, menjadikannya Ferrari produksi paling bertenaga dalam sejarah.
Performa yang diklaim memang mengesankan: percepatan 0–100 km/jam dalam waktu di bawah 2,3 detik, 0–200 km/jam dalam 6,35 detik, dan kecepatan puncak melebihi 330 km/jam. Sistem penggerak empat roda sesuai permintaan (e-AWD) memungkinkan pembagian torsi vektorial antar roda, memberikan cengkeraman dan kelincahan yang diklaim superior di kelasnya. Baterai lithium-ion 7,45 kWh menyediakan jarak tempuh listrik murni 25 kilometer pada mode eDrive.
Empat mode berkendara tersedia: eDrive untuk emission-free driving, Hybrid untuk efisiensi sehari-hari, Performance untuk kecepatan maksimal, dan Qualify untuk performa sirkuit penuh. Setiap mode mengubah karakteristik respons gas, strategi perpindahan gigi transmisi dopel-kopling 8 kecepatan, serta intervensi kontrol stabilitas. Ferrari juga merekalibrasi logika shift-up dari SF90 XX Stradale agar suara mesin lebih agresif saat akselerasi penuh.
Aerodinamika mengalami peningkatan substansial. Spoiler aktif baru dan solusi yang diadopsi dari program balap menghasilkan downforce 415 kg pada 250 km/jam — naik 25 kg dari SF90 Stradale. Peningkatan aliran udara juga mendinginkan sistem penggerak dan rem sebesar 15 persen. Bobot total dijaga agar tidak melebihi pendahulunya, menghasilkan rasio daya-ke-berat terbaik dalam segmen berlinetta V8 hybrid.
Sistem pengereman brake-by-wire generasi terbaru dipadukan dengan ABS Evo Ferrari dan estimator FIVE (Ferrari Integrated Vehicle Estimator) yang memprediksi gesekan ban secara real-time. Suspensi dan peredam direvisi untuk presisi pengereman dan umpan ban di batas cengkeraman. Paket ADAS lengkap — adaptive cruise control, pengereman darurat otomatis, blind-spot monitoring, lane keep assist, dan driver drowsiness detection — hadir standar, mencerminkan pergeseran ekspektasi pelanggan supercar modern yang menginginkan keamanan aktif tanpa mengorbankan emosi berkendara.
Insinyur Ferrari juga mengoptimalkan akustik mesin. Turbo baru diklaim salah satu terbesar yang pernah dipasang pada Ferrari produksi, dirancang untuk memperkaya nada pada putaran rendah dan menengah. Mendekati redline 8.300 rpm, suara, akselerasi, dan getaran diselaraskan menciptakan pengalaman sensorik intens. Di mode eDrive, mobil berjalan dalam keheningan total, menawarkan fleksibilitas mengakses kawasan residensasi area sensitif kebisingan.
Jordy Kamal, Manager Penjualan PT Eurokars Prima Utama, menegaskan bahwa 849 Testarossa mewakili puncak teknologi hybrid Ferrari saat ini. "Performa maksimum dimulai dari powertrain. 849 Testarossa merupakan PHEV yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 1.050 HP, menjadi salah satu Ferrari paling bertenaga yang pernah ada," ujarnya. Harga resmi dan jadwal pengiriman pertama ke pelanggan Indonesia belum diumumkan secara publik pada saat peluncuran.
Kehadiran 849 Testarossa di Indonesia menandai matangnya transisi Ferrari ke era elektrifikasi tanpa meninggalkan identitas V8. Berbeda dengan pendekatan Lamborghini yang memilih V12 naturally-aspirated plus hybrid pada Revuelto, Ferrari bertahan pada arsitektur V8 turbo yang sudah terbukti di SF90, namun menyempurnakan setiap aspek — dari termodinamika turbo hingga integrasi MGU-K keturunan F1. Strategi ini meminimalkan risiko keandalan sambil memaksimalkan efisiensi pengembangan.
Bagi pasar Indonesia, peluncuran ini mengonfirmasi komitmen Eurokars sebagai importir resmi membawa produk terbaru Maranello secara simultan dengan pasar global. Infrastruktur penunjang — bengkel berstandar Ferrari, teknisi tersertifikasi, dan ketersediaan suku cadang — sudah disiapkan. Potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan Bea Masuk yang tinggi tetap menjadi faktor penghambat volume penjualan, namun basis kolektor ultra-high-net-worth di Jakarta dan sekitarnya cukup kuat untuk menyerap alokasi terbatas.
Ke depan, 849 Testarossa akan menjadi benchmark bagi pesaing langsung seperti McLaren Artura Spider dan Lamborghini Temerario (jika diluncurkan). Perbedaan filosofi — Ferrari mempertahankan V8 turbo, McLaren beralih ke V6, Lamborghini bertahan pada V12 — akan memecah pasar ke dalam tiga preferensi teknis yang jelas. Ferrari juga sudah mengonfirmasi program mobil listrik murni pertama (Ferrari Luce) yang dijadwalkan debut 2025, menandai babak baru bagi brand yang selama 77 tahun didefinisikan oleh mesin bensin.