LONDON – Meski unggul jauh di klasemen konstruktor dan pembalap, Mercedes tidak dilarang mendapatkan izin pengembangan mesin tambahan pada musim 2026. Keputusan ini diambil oleh Federasi Internasional Otomotif (FIA) setelah meninjau mekanisme Tambahan Pengembangan dan Peluang Pembaruan (ADUO) yang dirancang untuk menjaga keseimbangan kompetitif di Formula 1.
FIA menyatakan bahwa keputusan diberikan berdasarkan analisis performa unit penggerak internal pembakuan (ICE) selama dua periode ulasan. Periode pertama dilakukan setelah Grand Prix Kanada pada Mei, dan periode kedua setelah Grand Prix Hongaria pada akhir Juli. Dalam periode pertama, Mercedes berada dalam rentang 2 hingga 4 persen di bawah performa terbaik, sementara Audi, Ferrari, dan Honda berada di atas 4 persen sehingga berhak mendapatkan dua tambahan homologasi mesin pada 2026 dan satu lagi pada 2027.
Namun, pada periode kedua, tidak ada produsen mesin yang memenuhi ambang batas tersebut. Ini berarti tidak ada tambahan upgrade yang diberikan, termasuk kepada Red Bull. Meskipun Red Bull tidak disebut secara eksplisit, keputusan ini mengindikasikan bahwa mesin yang dikembangkan secara internal bersama Ford dianggap sebagai referensi terbaik.
Mekanisme ADUO diperkenalkan sebagai bagian dari era mesin baru di Formula 1, bertujuan mencegah dominasi satu produsen yang tak bisa ditandingi oleh pesaing. Dengan aturan ini, tim-tim yang performanya jauh di bawah pemimpin akan mendapatkan ruang untuk menyamakan kompetisi.
Setelah 12 rangkaian balapan, Mercedes unggul 87 poin dari Ferrari, sementara Red Bull terpunchak jauh di belakang dengan selisih 239 poin. Meski demikian, tim dari Inggris ini masih menjadi perwakilan kuat dengan lima kemenangan berturut-turut dari enam balapan pertama, termasuk kemenangan terbaru dari pembalap rookie Kimi Antonelli.
Reaksi dari Red Bull tidak tertunda. Pada Juni lalu, tim ini sempat mencari klarifikasi kepada FIA terkait kebijakan ini. “Kami agak terkejut mendengar kabar ini,” ujar Max Verstappen, empat kali kampiun dunia, dalam pernyataannya. Namun, hingga kini tidak ada respon resmi dari pihak Red Bull terkait keputusan terbaru.
Nikolas Tombazis, Direktur Single Seater FIA, menegaskan bahwa proses analisis telah dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif. “Ini adalah tahun pertama kami menerapkan ADUO, jadi memang wajar jika ada hal-hal yang perlu disempurnakan di masa depan,” katanya. Ia menambahkan bahwa FIA akan terus berdiskusi dengan semua produsen unit penggerak untuk merancang mekanisme yang lebih adil.
Dari sudut pandang teknis, izin upgrade tambahan memberi dampak langsung pada jumlah pengujian dinamis dan anggaran pengembangan. Setiap tambahan homologasi dilengkapi dengan penyesuaian terhadap batas biaya dan waktu penggunaan dyno, sehingga tidak semua tim bisa menambah pengujian secara sembarangan.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, keputusan ini justru menambah ketegangan kompetisi. Meskipun tidak ada representasi tim lokal, dinamika ini tetap menjadi sorotan utama karena dampaknya terhadap strategi balapan dan pengembangan teknologi yang kemudian bisa menemui konsumen biasa.
Sementara itu, kehadiran teknologi turbo dan hybrid yang dikembangkan oleh produsen asli di Formula 1 justru semakin relevan dengan tren mobil ramah lingkungan yang sedang berkembang pesat di pasar otomotif global, termasuk di Indonesia.
Fenomena ini juga memicu diskusi luas di kalangan teknologi otomotif lokal mengenai kemungkinan kolaborasi dengan pabrikan asing, terutama dalam hal sistem drivetrain yang efisien.
FIA menegaskan bahwa mekanisme ADUO akan tetap berjalan selama musim 2026 dan 2027, dengan evaluasi berkala untuk memastikan kompetisi tetap seimbang. Jika diperlukan, aturan bisa disesuaikan agar tidak ada tim mendominasi secara berlebihan.
Ditinjau dari proyeksi ke depan, keputusan ini menjadi penting karena menentukan strategi pengembangan masing-masing tim menuju akhir musim. Tim-tim yang mendapat upgrade tambahan diharapkan bisa meningkatkan performa secara signifikan, sementara yang tidak mendapatkan kesempatan pun semakin perlu mencari inovasi di luar mesin.
Fakta bahwa Red Bull tidak mendapatkan upgrade pun justru menjadi sinyal bahwa mesin yang dikembangkannya bersama Ford sudah diakui sebagai salah satu tercepat di kompetisi ini, meski secara poin masih terpunchak jauh di belakang.
Dengan demikian, ADUO justru berperan sebagai mekanisme kompensasi bagi mereka yang kalah dalam pengembangan mesin, namun tidak bisa mengabaikan faktor lain seperti aerodinamika, strategi, dan kemampuan pembalap.
Keputusan FIA ini pun semakin menguatkan narasi bahwa Formula 1 sedang berada pada titik keseimbangan yang rapuh, di mana setiap keputusan teknis bisa berdampak besar pada klasemen akhir musim.