Internasional

Iran dan Oman Bentuk Perjanjian Laut Hormuz, AS Tekankan Syarat Pembukaan

Ringkasan

  • Iran dan Oman masih perdebatkan perjanjian kendali Selat Hormuz, sementara AS menuntut syarat pembukaan penuh yang belum dipenuhi, memicu ketegangan energi global.

Iran dan Oman masih dalam proses perundingan terperinci terkait kendali lalu lintas di Selat Hormuz, meski klaim yang beredar tentang kesepakatan hampir final belum sepenuhnya akurat. Menurut sumber senior Iran, kesepakatan belum finalisasi, namun negosiasi terus berjalan untuk menentukan bagaimana kedua negara akan mengatur laut dan pendapatan yang dihasilkan dari jalur laut strategis tersebut.

Dalam pernyataannya, Komando Revolusioner Guard Iran (IRGC) menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah dan pendapatan. Namun, pembukaan penuh Selat Hormuz tidak akan terjadi kecuali AS memenuhi kondisi yang ditetapkan Iran, termasuk pembongkaran sanksi, kompensasi, dan penghapusan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Selat Hormuz menjadi titik kritis dalam pasokan energi global, dengan sekitar satu lima dari total perdagangan minyak dan gas alam tercair global melewati laut ini sebelum konflik memuncak pada Februari. Sejak saat itu, sebagian besar lalu lintas kapal terhenti, menyebabkan lonjakan harga energi di seluruh dunia.

Konflik ini tidak hanya mengganggu jalur energi, tetapi juga memicu ketegangan geopolitik yang meluas. AS dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran sejak awal konflik, sementara Iran menanggapi dengan aksi balas dendam yang melibatkan serangan laut dan udara. Dampaknya terasa kuat pada pasokan energi global, khususnya bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.

Bagi Indonesia, yang mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyaknya dari luar negeri, kenaikan harga energi global akibat gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada inflasi domestik. Kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan energi ini menambah beban bagi pemerintah dan masyarakat luas.

Di sisi lain, Iran juga mengumumkan daftar hitam 45 kapal yang diduga terlibat dalam transfer barang antar kapal (ship-to-ship) untuk menghindari blokade Iran. Langkah ini menunjukkan upaya Tehran untuk mempertegas kontrolnya atas lalu lintas laut di wilayahnya.

Presiden AS Donald Trump sempat memberi peringatan tegas kepada Oman agar tidak mendukung Iran, bahkan mengancam dengan tindakan militer jika Oman menganggap diri dapat menghalangi kepentuan AS. Namun, Oman tetap berupaya menjaga netralitasnya dan menjadi mediasi antara kedua belah pihak.

Sementara itu, Secretary of State AS, Marco Rubio, dikabarkan memberi sinyal bahwa AS tidak akan meluncurkan serangan baru dalam waktu dekat, melainkan akan mengandalkan tekanan diplomasi dan ekonomi. Langkah ini mungkin mencerminkan kelelahan publik AS terhadap perang yang telah berlangsung lama.

Umor politik juga memengaruhi dinamika ini. Popularitas Trump dan dukungan publik terhadap perang di Iran serta Lebanon turun signifikan, terutama menjelang pemilihan Kongres pada November mendatang.

Di pihak Iran, pasukan militer mengklaim telah menerima peralatan baru dan mendapatkan pengalaman bertarung yang signifikan melawan dua militer yang lebih canggih secara teknologi. Pengakuan ini mungkin berupaya untuk mempertegas ketahanan militer Iran di tengah serangan yang terus-menerus.

Perkembangan terkini ini menunjukkan bahwa jalur Selat Hormuz masih menjadi pusat perhatian global, dengan pengaruhnya yang meluas tidak hanya pada pasokan energi, tetapi juga pada kestabilan regional dan hubungan internasional yang rumit.

Negara-negara yang bergantung pada impor energi, seperti Indonesia, perlu memantau perkembangan ini dengan cermat dan mencari strategi diversifikasi pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber saja.

Sementara itu, upaya diplomasi yang dilakukan Oman dan Iran dapat menjadi kunci untuk membuka jalan menuju normalisasi kembali di kawasan yang rentan ketegangannya ini.

Meski demikian, tantangan besar masih ada, terutama dengan tetap ketidakpastian mengenai sikap AS dan komitmennya untuk menurunkan tekanan sanksi. Kondisi ini akan menentukan apakah Selat Hormuz dapat kembali menjadi jalur laut yang aman dan terbuka untuk semua pihak.

Mengapa Ini Penting

Konflik di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung bagi pasokan energi global, termasuk Indonesia yang mengimpor 40% kebutuhan minyaknya. Keterlambatan pembukaan jalur ini dapat memicu kenaikan harga BBM dan inflasi domestik. Upaya diplomasi Oman dan Iran menunjukkan pentingnya netralitas dalam konflik geopolitik, sementara tekanan AS pada Oman menggambarkan dinamika kekuatan yang rumit di kawasan strategis ini. Bagi konsumen energi seperti Indonesia, penting untuk memantau perkembangan ini dan mempertimbangkan strategi diversifikasi pasokan energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit