Federasi Otomotif Internasional (FIA) secara resmi telah menyetujui usulan untuk menghapus batasan masa jabatan bagi posisi presiden organisasi tersebut. Keputusan krusial ini diambil melalui pemungutan suara yang dilakukan dalam pertemuan Majelis Umum Luar Biasa FIA yang berlangsung di Makau pada hari Kamis lalu. Hasil pemungutan suara menunjukkan dukungan yang sangat signifikan, dengan lebih dari 90 persen anggota memberikan suara setuju terhadap perubahan konstitusi internal federasi tersebut.
Presiden FIA saat ini, Mohammed Ben Sulayem, yang berusia 64 tahun, menjadi sosok sentral di balik perubahan kebijakan ini. Sebelum adanya perubahan ini, aturan FIA membatasi masa jabatan presiden maksimal selama tiga periode, dengan durasi masing-masing empat tahun. Ben Sulayem, yang baru saja terpilih kembali secara aklamasi untuk periode kedua, kini memiliki peluang untuk memimpin federasi dalam jangka waktu yang lebih panjang tanpa terikat batasan administratif yang sebelumnya berlaku.
Langkah ini menandai pergeseran besar dari kebijakan yang diinisiasi oleh pendahulu Ben Sulayem, Jean Todt. Todt sebelumnya memberlakukan batasan masa jabatan tersebut sebagai upaya untuk memastikan regenerasi kepemimpinan, menyusul masa jabatan panjang yang dipegang oleh Max Mosley. Penghapusan aturan ini memicu spekulasi di kalangan pengamat otomotif global, dengan beberapa pihak menyebutkan bahwa ada keinginan untuk menghapus batasan usia dan potensi jabatan seumur hidup, meskipun pihak FIA belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Ben Sulayem menegaskan bahwa keputusan ini mencerminkan kemajuan berkelanjutan yang sedang dibangun oleh federasi. Ia menyoroti komitmen FIA terhadap penguatan tata kelola organisasi, disiplin finansial yang lebih ketat, serta visi jangka panjang yang lebih jelas bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia balap internasional. Menurutnya, perubahan ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk membawa FIA menjadi federasi yang lebih efisien dan kompetitif di masa depan.
Dari sisi kinerja keuangan, FIA menunjukkan performa yang cukup impresif di bawah kepemimpinan saat ini. Laporan tahunan 2025 mengungkapkan bahwa organisasi berhasil mencatatkan laba operasional sebesar 6,7 juta euro. Angka tersebut merepresentasikan lonjakan sebesar 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menjadi titik balik yang sangat krusial bagi organisasi setelah sempat mengalami kerugian operasional yang cukup dalam, yakni mencapai 24 juta euro pada tahun 2021.
Ke depannya, langkah ini akan terus diawasi oleh para penggemar Formula 1 dan pihak-pihak terkait dalam industri otomotif. Perubahan aturan ini dipandang sebagai konsolidasi kekuasaan yang signifikan di puncak organisasi otomotif dunia. Sementara para pendukung kebijakan ini menganggapnya sebagai stabilitas kepemimpinan, para kritikus khawatir bahwa ketiadaan batasan masa jabatan dapat menghambat dinamika demokrasi dan inovasi kepemimpinan di masa mendatang.