Internasional

FIFA Pertahankan Infantino Usai Rencana Hak Komersial Piala Dunia Gagal

Ringkasan

  • FIFA menegaskan dukungan penuh kepada Presiden Gianni Infantino setelah rencana penjualan 20 persen hak komersial Piala Dunia senilai 4,2 miliar dolar ditarik mundur akibat protes keras dari UEFA, AFC, dan Concacaf.

FIFA menggelar pertemuan darurat di Rabat, Maroko, pada Rabu lalu untuk menanggapi gejolak internal yang memaksa Infantino mundur dari rencana Forward Enterprise. Dalam pernyataan resmi, Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom dan dewan manajemen menyatakan dukungan penuh kepada Infantino sebagai "satu-satunya pemimpin yang dipilih secara resmi oleh 211 asosiasi anggota FIFA".

Pernyataan itu juga mengakui adanya kesalahan dalam penanganan proposal tersebut. FIFA telah mengirim surat permintaan maaf ke dewan pengelola dan seluruh asosiasi anggota, serta menjanjikan tinjauan menyeluruh yang akan diikuti laporan transparan. Organisasi ini menegaskan tidak akan mentolerir serangan terhadap integritasnya dan siap mengambil "semua langkah yang diperlukan" untuk mempertahankan reputasi.

Latar belakang krisis bermula dari rencana Forward Enterprise yang menawarkan 20 persen saham badan hak komersial baru kepada investor swasta guna mengumpulkan dana 4,2 miliar dolar. Investigasi media mengungkap bahwa salah satu entitas yang terlibat memiliki keterkaitan keluarga dengan Presiden AS Donald Trump, memicu kecurigaan soal kepentingan politik di balik komersialisasi Piala Dunia.

Reaksi keras datang dariUEFA yang menyatakan kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan Infantino dan mengirim "surat preservasi dokumen" ke FIFA sebagai langkah hukum awal. Carlos Cordeiro, penasehat senior Infantino, mengundurkan diri sebagai protes, sedangkan mantan pelatih Arsenal Arsene Wenger menyingkirkan dirinya dari proyek tersebut.

Menurut laporan The Times, UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bersiap melumpuhkan operasi FIFA atau meluncurkan kompetisi rival jika Infantino tidak mundur. Ancaman itu menciptakan tekanan tak precedented bagi badan induk sepak bola dunia.

Di sisi lain, Qatar dan sejumlah asosiasi Afrika telah menyatakan dukungan terbuka kepada Infantino, menegaskan bahwa stabilitas kepemimpinan lebih vital dibandingkan reformasi mendadak. Dukungan blok ini memperkuat posisi Infantino menjelang Kongres FIFA Maret 2027.

Krisis ini menyoroti ketegangan antara komersialisasi agresif dan tata kelola tradisional dalam sepak bola global. Jika rencana penjualan hak komersial diteruskan, aliran pendapatan Piala Dunia bisa bergeser ke tangan investor swasta, mengubah mekanisme pembagian dana ke asosiasi anggota termasuk PSSI.

Bagi sepak bola Indonesia, perubahan model hak siar dan komersial berpotensi memengaruhi nilai kontrak siar tayang liga domestik serta pembagian dana pengembangan dari FIFA Forward. PSSI perlu memantau perkembangan ini agar kepentingan nasional tidak terpinggirkan dalam negosiasi global.

"Kami mendukung penuh Presiden Infantino sebagai satu-satunya pemimpin yang dipilih oleh 211 asosiasi anggota," ujar Grafstrom dalam pernyataan FIFA, menegaskan legitimasi pemilihan demokratis sebagai landasan kekuasaan.

UEFA dalam siaran pers terpisah menegaskan telah "kehilangan kepercayaan" dan menuntut transparansi penuh sebelum melanjutkan kolaborasi komersial. Sikap tegas ini menandakan pergeseran dinamika kekuasaan di antara konfederasi besar.

Langkah selanjutnya adalah penyusunan laporan tinjauan independen yang diharapkan rampung sebelum Kongres Maret. Hasil laporan akan menentukan apakah reformasi tata kelola komersial akan dilaksanakan atau status quo dipertahankan.

Jangka panjang, stabilitas kepemimpinan Infantino akan menentukan arah komersialisasi Piala Dunia 2026 dan 2030. Penggemar dan pemangku kepentingan di Indonesia sebaiknya mengikuti perkembangan ini karena dampaknya akan merambah ke hak siar, sponsor, dan dana pengembangan sepak bola tanah air.

Mengapa Ini Penting

Krisis ini menentukan siapa yang mengendalikan aliran dana miliaran dolar dari Piala Dunia, yang langsung memengaruhi pembagian dana FIFA Forward ke PSSI dan nilai hak siar liga domestik. Jika investor swasta dengan agenda politik masuk, transparansi dan keadilan distribusi dana bisa terancam. Stabilitas kepemimpinan Infantino juga menentukan apakah Indonesia akan mendapat jaminan akses siar yang adil untuk turnamen besar mendatang. Pemangku kepentingan lokal harus siap bernegosiasi dalam kerangka tata kelola baru yang mungkin lahir dari reformasi ini.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
5 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit