FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, secara resmi mengumumkan proposal bersejarah untuk menjual hingga 20 persen saham dari Piala Dunia dan kompetisi lainnya kepada investor swasta. Rencana ini melibatkan pembentukan entitas baru bernilai miliaran dolar yang akan mengelola properti paling berharga dalam olahraga global.
Langkah ambisius ini diumumkan pada hari Selasa, menandai pergeseran potensial terbesar dalam struktur keuangan sepak bola internasional selama beberapa dekade. FIFA berencana mendirikan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS yang disebut FIFA Forward Enterprise. Melalui entitas ini, FIFA akan mempertahankan saham mayoritas tetapi menawarkan saham minoritas kepada pihak eksternal.
Tujuan utama penggalangan dana, yang diperkirakan bisa mencapai 4,2 miliar dolar AS, adalah untuk memperluas akses dan partisipasi global dalam olahraga sepak bola. FIFA menyatakan semua keuntungan bersih akan diinvestasikan kembali ke dalam permainan. Mereka menekankan bahwa rencana ini bertujuan untuk memastikan pertumbuhan sepak bola merata, bukan hanya menguntungkan satu konfederasi.
Proposal ini tidak lepas dari konteks keuangan FIFA yang sangat kuat. Baru saja menjadi tuan rumah Piala Dunia 48 tim di Amerika Utara – turnamen terbesar dalam sejarah – FIFA tetap menjadi salah satu organisasi olahraga terkaya di dunia. Pendapatan raksasa mereka bersumber dari hak siar, sponsor, dan kesepakatan komersial terkait Piala Dunia.
Namun, langkah ini langsung memicu badai reaksi, terutama dari UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa. UEFA secara tegas menentang rencana tersebut, menyebutnya telah "melampaui garis batas yang tidak boleh dilanggar oleh institusi pengatur sepak bola". Dalam pernyataannya, UEFA memperingatkan bahwa "jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan".
Pernyataan UEFA mencerminkan kekhawatiran mendalam tentang privasi dan transparansi keuangan. Mereka mempertanyakan siapa yang benar-benar akan mendapatkan keuntungan finansial dari transaksi semacam ini. Ketegangan ini memperdalam perpecahan antara FIFA yang berbasis di Zurich dan UEFA yang berpusat di Nyon, dengan masing-masing memiliki visi berbeda tentang masa depan tata kelola sepak bola.
FIFA berargumen bahwa proposal ini memungkinkan mereka untuk mendanai pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia. Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan, "Sepak bola adalah olahraga dunia. Bagian-bagian dari permainan telah mengubah popularitas itu menjadi nilai komersial yang luar biasa. Tugas kami adalah memastikan sisa sepak bola turut tumbuh bersamanya."
Namun, kritik tidak hanya datang dari kalangan sepak bola. Bahkan Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, ikut angkat bicara melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa olahraga ini bukan milik investor dan "Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terhebat dalam olahraga dunia, dan itu tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual."
Kendati menuai protes keras, proposal ini masih harus melewati proses demokrasi internal FIFA. Diperlukan suara mayoritas dari 211 negara anggota FIFA untuk menyetujui rencana ini. Jika disetujui, investor utama yang dikabarkan akan memimpin kelompok investasi adalah entitas yang didirikan oleh Joshua Kushner, saudara ipar Presiden AS Donald Trump.
Dari sudut pandang Indonesia, rencana ini memiliki beberapa implikasi potensial. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang sangat besar, kenaikan nilai komersial Piala Dunia bisa berdampak pada biaya hak siar. Jika nilai komersial semakin melonjak, hak siar untuk menayangkan turnamen di Indonesia berpotensi menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya bisa membebani operator televisi berbayar atau platform streaming.
Di sisi lain, jika rencana ini berhasil dan dana benar-benar dialokasikan untuk pembangunan global, Indonesia bisa mendapat manfaat dari infrastruktur dan program pengembangan sepak bola yang lebih baik. Namun, kekhawatiran utama tetap pada transparansi dan bagaimana keuntungan tersebut benar-benar didistribusikan, mengingat gap antara sepak bola elite Eropa dan negara-negara berkembang masih sangat lebar.
Ke depannya, jika proposal ini disetujui, ini akan menjadi preseden bersejarah. Dunia sepak bola akan memasuki era baru di mana properti olahraga paling bergengsi dimiliki sebagian oleh investor swasta. Model ini bisa menarik minat investor lain dan mengubah lanskap pendanaan olahraga global secara permanen. Semua pihak, dari klub hingga federasi nasional, harus bersiap menghadapi kemungkinan perubahan tata kelola keuangan yang fundamental.