Feroz Aslam, pria berusia 28 tahun asal Sopore, Kashmir, kini harus menjalani hari-harinya dalam kegelapan total. Sepuluh tahun lalu, kehidupan Aslam berubah drastis saat ia terkena tembakan senapan pelet oleh pasukan keamanan India di tengah protes anti-pemerintah. Sebanyak tujuh pelet menembus mata kanannya, enam di mata kiri, dan ratusan lainnya bersarang di dadanya. Hingga saat ini, ia masih bergantung penuh pada orang tuanya yang juga sudah lanjut usia untuk kebutuhan sehari-hari, sebuah kenyataan yang membuatnya merasa sangat terpukul.
Senapan pelet yang digunakan oleh otoritas India sejak 2010 telah menyebabkan lebih dari 1.000 warga Kashmir mengalami kebutaan permanen atau cacat penglihatan. Senjata ini melepaskan ratusan bola besi kecil yang merusak jaringan tubuh dan sangat sulit untuk diangkat secara medis. Bagi para korban, setiap ingatan tentang insiden tersebut adalah trauma yang mendalam, namun luka ini kembali terbuka akibat kehadiran film Bollywood mendatang berjudul 'Chauhaan'.
Film yang dijadwalkan rilis pada Oktober 2027 ini menampilkan aktor Ajay Devgn sebagai petugas keamanan India yang berhadapan dengan pengunjuk rasa di Kashmir. Dalam cuplikan teaser yang beredar, narasi film tersebut mengkritik kebijakan pemerintah masa lalu yang dianggap terlalu lunak terhadap demonstran. Yang paling kontroversial adalah dialog dalam film yang menyebut bahwa senapan pelet hanya menyebabkan 'kerusakan terbatas' atau limited damage, sebuah pernyataan yang dianggap sangat merendahkan penderitaan para korban.
Ketegangan semakin memuncak ketika cuplikan film tersebut memperlihatkan adegan yang menggunakan lagu populer tahun 90-an saat berhadapan dengan massa. Mengingat sebagian besar protes di wilayah Kashmir secara historis sering terjadi pada hari Jumat, penggunaan lagu tersebut dalam konteks kekerasan dianggap sebagai bentuk ejekan yang tidak pantas terhadap komunitas Muslim di sana.
Aslam, meski tidak dapat menyaksikan visual film tersebut, mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam terhadap para pembuat film. Ia menantang para sineas untuk merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan, bahkan jika hanya selama satu hari. Menurutnya, karya seni seharusnya tidak memuliakan instrumen yang telah merenggut masa depan dan penglihatan ribuan warga sipil yang tidak bersalah.
Kontroversi ini kembali memicu diskusi global mengenai etika dalam industri film saat mengangkat isu konflik yang sensitif. Para aktivis hak asasi manusia dan korban menuntut agar narasi yang mempermainkan trauma kolektif dihentikan. Hingga saat ini, pihak produksi film belum memberikan tanggapan resmi terkait protes yang muncul dari komunitas terdampak di Kashmir.