Film dokumenter House of Hope yang disutradarai Marjolein Busstra hadir sebagai bukti visual bagaimana pendidikan bisa menjadi bentuk perlawanan non-violent di tengah kekerasan struktural. Tayangan ini mengikuti Manar Wahhab, pendiri House of Hope Vision Kindergarten & School di al-Eizariya, Kibarat Barat, yang bersama suaminya Milad Vosgueritchian menerapkan filsafat Waldorf untuk melindungi martabat anak-anak Palestina. Busstra menghabiskan tiga tahun dan sembilan kali kunjungan untuk merekam kehidupan sehari-hari di sekolah yang didirikan pasangan ini sebagai respons atas trauma kolektif komunitas mereka.
Filsafat Waldorf yang dianut sekolah ini menempatkan ekspresi emosi dan kreativitas sebagai inti pembelajaran. Berbeda dengan kurikulum konvensional yang mengutamakan hasil akademik, pendekatan ini menciptakan ruang bagi anak-anak untuk memproses ketakutan, kemarahan, dan kekhilafan yang mereka alami sehari-hari. "Sekolah ini melindungi martabat anak-anak di saat ini," ujar Busstra kepada Al Jazeera. "Ini soal menolak biarkan okupasi membentuk dunia batin mereka, agar mereka tetap bisa menjadi anak-anak dan memiliki agency." Kata agency di sini merujuk pada kemampuan individu untuk bertindak dan memilih atas kehidupannya sendiri.
Latar belakang pendirian sekolah ini tak terpisah dari realitas kehidupan di bawah okupasi Israel yang telah berlangsung puluhan tahun. Wahhab dan Vosgueritchian memulai inisiatif ini setelah menyaksikan kesulitan komunitas mereka yang tertekan oleh kekerasan fisik, psikologis, dan pembatasan gerak. Mereka menginginkan ruang yang menawarkan cinta, keamanan, kreativitas, dan penyembuhan — bukan sekadar transfer pengetahuan. "House of Hope adalah ide, misi, dan energi yang kami bawa ke mana pun kami pergi," kata Wahhab. Sekolah ini beroperasi di tengah escalasi ketegangan yang melonjak drastis pasca insiden 7 Oktober 2023 dan respons militer Israel yang mengikuti.
Pasca 7 Oktober, suasana di sekolah berubah drastis. Busstra mengakui bahwa narasi yang ia ingin bangun bersama Manar tetap sama, namun bobot emosionalnya jadi lebih berat. "Mereka sangat tertekan untuk sementara waktu. Seperti orang yang berbeda, seolah kehilangan semua harapan," cerita Busstra. Intensifikasi aksi militer Israel di Kibarat Barat, termasuk penembakan dan pembunuhan anak-anak, menjadi bayangan konstan. Dalam satu adegan, Wahhab memeriksa tas anak laki-lakinya sebelum berangkat sekolah — memastikan ada charger telepon dan pakaian cadangan kalau-kalau ia ditahan di checkpoint berjam-jam.
Kepercayaan antara subjek dan sutradara menjadi kunci keberhasilan film ini. Busstra dan Wahhab sudah bertemu 18 tahun lalu selama bengkel film di Kibarat Barat. Persahabatan dan nilai bersama soal pendidikan, kebebasan kreatif anak, dan pengakuan akan keutuhan manusia — pikiran, jiwa, dan roh — menciptakan keintiman yang memungkinkan pengambilan gambar di momen-momen rentan. Wahhab sengaja menampilkan versi dirinya yang lelah, marah, kewalahan, atau sakit, bukan hanya yang energik dan kooperatif. "Saya harus seotentik mungkin, karena saya mewakili tidak hanya diri saya, tapi juga komunitas, harapan, damai, dan suara Palestina," ucapnya.
Produksi film ditangani Think-Film, perusahaan yang juga memproduksi The Voice of Hind Rajab — dokumenter tentang Hind Rajab, anak berusia lima tahun yang tewas ditembak pasukan Israel pada 2024. Mobil yang mengangkut Hind dan enam keluarganya diserang 335 peluru, kasus yang jadi simbol kegagalan sistem melindungi anak-anak di Gaza. Keterkaitan ini memperkuat narasi House of Hope sebagai bagian dari upaya dokumentasi kejahatan terhadap anak-anak di wilayah konflik. Anak-anak di House of Hope, saat diminta menggambar bebas, justru menggambarkan realitas brutal okupasi: tank, tentara, dan bangunan hancur.
Pandangan Wahhab tentang kekerasan dan non-kekerasan menawarkan perspektif yang jarang terdengar di media mainstream. "Saya tidak melihat non-kekerasan sebagai kelemahan. Sebenarnya saya percaya sebaliknya. Kekerasan itu mudah. Non-kekerasan butuh keberanian, kesadaran, kesabaran, dan kerja batin," tegasnya. Ia menambahkan bahwa non-kekerasan menuntut untuk melihat di luar rasa sakit dan ego sendiri, menjaga kerendahan hati bahkan saat keadaan mendorong ke arah lawan. "Dunia menyerap energi yang kita ciptakan. Saat ini begitu banyak ketakutan, kemarahan, dan kekerasan. Kita butuh lebih banyak kedamaian di dalam diri, antar sesama, dan dengan alam."
Konteks ini relevan bagi Indonesia yang memiliki pengalaman konflik di beberapa wilayah seperti Papua, Aceh (masa lalu), dan Poso. Pendekatan pendidikan berbasis pemulihan trauma dan pemberdayaan emosional — mirip prinsip Waldorf — sudah mulai diterapkan sejumlah LSM dan sekolah alternatif di daerah pasca-konflik. Namun, skala dan dukungan kebijakan nasional masih terbatas. Film ini mengingatkan bahwa investasi pada kesehatan mental anak bukan hal pelengkap, melainkan kebutuhan fundamental untuk mencegah siklus kekerasan berkelanjutan.
Di sisi lain, House of Hope juga mengangkat isu kedaulatan pendidikan. Sekolah ini beroperasi di bawah tekanan okupasi yang membatasi gerak, mengontrol kurikulum, dan mengancam keamanan fisik siswa. Situasi ini mengingatkan pada tantangan sekolah-sekolah di wilayah terpencil dan konflik di Indonesia, di mana akses pendidikan berkualitas sering kali jadi korban ketidakstabilan. Negara harus memastikan bahwa hak pendidikan anak tidak tergantung pada situasi keamanan, melainkan dijamin sebagai hak konstitusional yang non-derogable.
Film ini kini beredar di festival-festival film internasional dan dijadwalkan untuk distribusi lebih luas melalui First Hand Films. Busstra berharap penonton tidak hanya tergerak emosional, tapi memahami bahwa harapan yang dibangun Manar dan komunitasnya bukan optimisme naif, melainkan keputusan sadar untuk terus menciptakan ruang kemanusiaan di tengah dehumanisasi sistematis. "Cerita yang ingin saya ciptakan dengan Manar tetap sama," kata Busstra. "Tapi setelah 7 Oktober, semuanya jadi lebih berat. Sekolah membangun benteng aman, tapi okupasi selalu mengguncang pintunya."
Ke depan, House of Hope berpotensi jadi referensi penting bagi pendidik, aktivis hak asasi manusia, dan pembuat kebijakan di Indonesia dan global. Dokumentasi visual ini membuktikan bahwa pendidikan transformatif bisa berjalan di tengah kegentingan, asalkan ada komitmen kolektif untuk melindungi ruang itu. Bagi Indonesia, film ini juga jadi cermin: apakah kita sudah cukup melindungi hak anak di zona konflik untuk belajar, bermain, dan tumbuh tanpa ketakutan? Jawabannya akan menentukan masa depan generasi yang tumbuh di bayang-bayang kekerasan.