Gaya Hidup

15 Pasang Finalis Adu Bakat di Grand Final Abang None Jakbar 2026

Ringkasan

  • 15 pasang finalis Abang None Jakbar berlomba di Pullman Central Park, Jumat, memperebutkan tujuh posisi duta pariwisata dan budaya Provinsi DKI Jakarta.

Sebanyak 15 pasang finalis Abang dan None Jakarta Barat berkompetisi memperebutkan gelar dalam malam puncak pemilihan duta pariwisata dan budaya di Grand Ballroom Hotel Pullman Jakarta Central Park, Jumat malam. Ajang tahunan ini menjadi penentuan tujuh pasang pemenang yang kelak mewakili wilayah Jakarta Barat dalam promosi pariwisata dan pelestarian budaya di level provinsi.

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Barat, Sherly Yuliana, menegaskan bahwa tujuh pasang terpilih bukan sekadar pembawa titel, melainkan figur publik yang akan mengemban tugas sebagai Duta Pariwisata dan Duta Budaya. Mereka diharapkan tampil dalam berbagai program promosi yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tahun ini, panitia mengangkat tema "Nadi Jakarta Barat: Global & Berbudaya". Pemilihan tema tersebut tidak lepas dari sejarah panjang kawasan Pecinan Glodok, Kota Tua, dan Kali Besar. Sejak abad ke-17, wilayah itu telah menjadi titik pertemuan beragam peradaban: Tionghoa, Arab, Eropa, dan Nusantara.

Sherly menjelaskan bahwa kawasan bersejarah tersebut menjadi simbol lahirnya identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap memegang teguh akar budaya. Tema ini juga selaras dengan peringatan lima abad Jakarta yang sedang menuju visi kota berkelas dunia namun berkepribadian lokal.

Untuk mengejawantahkan tema, para finalis menampilkan koreografi Nandak pada malam final. Gerakan tersebut dirancang sebagai representasi keberagaman yang menyatu dalam satu ritme budaya Jakarta Barat. Penampilan itu sekaligus mempertegas bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang kecantikan atau popularitas.

Bagi industri pariwisata daerah, kehadiran duta muda semacam ini memberi nilai tambah dalam strategi pemasaran berbasis komunitas. Di tengah persaingan destinasi antarwilayah di DKI Jakarta, sosok Abang None yang terlatih memberikan wajah manusiawi sekaligus relatif murah bagi promosi wisata lokal.

Di sisi lain, ajang ini menjadi wadah pembinaan generasi muda yang lebih luas. Mereka tidak hanya dilatih berbicara di depan publik, tetapi juga memahami tata kelola pemerintahan, kebudayaan Betawi, hingga manajemen komunikasi krisis. Hal ini relevan dengan kebutuhan sumber daya manusia kreatif di sektor ekonomi baru.

Dibandingkan dengan provinsi lain, model Abang None di Jakarta memiliki keunikan karena dikawal oleh struktur pemerintahan resmi hingga level kota administrasi. Daerah seperti Yogyakarta atau Bali biasa mengandalkan duta wisata sukarela, sementara Jakarta mengintegrasikannya ke dalam program dinas pariwisata.

Menurut Sherly, ajang tersebut diharapkan melahirkan duta pembangunan yang berkontribusi langsung pada citra positif Jakarta Barat sebagai kawasan nyaman dikunjungi. "Yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kunjungan wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara," ujarnya.

Proses seleksi menuju final cukup ketat. Dari 250 pendaftar yang terdiri atas 92 calon Abang dan 158 calon None, panitia menyaring menjadi 30 finalis melalui tahapan pada 6–7 Juni 2026. Mereka kemudian menjalani pembekalan intensif hingga 17 Juli.

Sebelum malam puncak, para finalis menampilkan busana Batik Gobang rancangan sendiri pada kegiatan Road to Final. Penjurian tengah dilaksanakan pada 12 Juli untuk menentukan kesiapan mereka sebelum tampil di hadapan juri utama.

Malam final dipandu Pricilla Justian dan Septa Andrian, alumni Abang None Jakbar, serta dihibur grup musik Geisha dan komunitas lokal Voice of West serta Dbatlayar. Ke depan, para pemenang akan turun langsung ke lapangan mempromosikan destinasi seperti Kota Tua dan Glodok kepada wisatawan domestik maupun asing.

Tren duta wisata berbasis kearifan lokal diprediksi makin vital seiring pemulihan sektor pariwisata pasca hambatan global. Jakarta Barat menempatkan budaya sebagai infrastruktur promosi, bukan sekadar pelengkap acara.

Mengapa Ini Penting

Model duta wisata berbasis pemerintahan seperti Abang None terbukti efektif menekan biaya promosi daerah sekaligus menyerap aspirasi pemuda lokal. Masyarakat Indonesia luas berpeluang mencontoh integrasi budaya ke dalam identitas kota global guna mendongkrak ekonomi kreatif. Keberadaan finalis terlatih juga mengurangi ketergantungan pada influencer komersial yang kerap lepas dari narasi pelestarian budaya. Ke depan, kolaborasi antarwilayah lewat duta serupa dapat memperkuat pariwisata nasional secara terdesentralisasi.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit