Ratusan warga Palestina di Jalur Gaza meluapkan kegembiraan setelah tim nasional Spanyol merebut gelar juara Piala Dunia 2026. Perayaan berlangsung di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat konflik berkepanjangan, menunjukkan ikatan emosional kuat antara penduduk Gaza dan negara yang dianggap membela perjuangan mereka.
Video yang diunggah oleh jaringan Al Arab Qatar memperlihatkan kerumunan warga berkumpul di area terbuka yang dipenuhi puing-puing. Mereka bersorak, meneriakkan slogan selamat untuk Spanyol, dan beberapa di antaranya begitu antusias hingga mengangkat-angkat kursi sebagai ekspresi sukacita. Suasana itu kontras dengan kondisi wilayah yang masih menyisakan bekas agresi militer.
Spanyol bukan sekadar kekuatan sepak bola yang disegani. Negara tersebut sejak 2024 secara resmi mengakui kemerdekaan Palestina, langkah diplomatik yang menempatkan Madrid berseberangan dengan sejumlah sekutu Baratnya. Pengakuan itu diperkuat dengan keputusan bergabung bersama Afrika Selatan untuk menuntut Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).
Sikap proaktif Madrid tidak berhenti di jalur diplomasi. Pemerintah Spanyol berulang kali mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan Tepi Barat. Mereka juga mendorong penerapan embargo senjata terhadap Israel serta melarang masuknya pihak-pihak yang terlibat agresi di Gaza ke wilayah Spanyol.
Selain langkah politis, Madrid meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak krisis. Kombinasi dukungan politik dan bantuan nyata itulah yang membuat kemenangan La Furia Roja di atas lapangan hijau terasa seperti kemenangan moral bagi penduduk Gaza.
Di Spanyol sendiri, euforia serupa muncul. Masyarakat di beberapa kota mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan "Bebaskan Palestina!" saat merayakan trofi juara dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sepak bola telah melampaui batas olahraga dan menjadi medium solidaritas global.
Bagi pembaca Indonesia, peristiwa ini memantik refleksi tentang peran olahraga sebagai instrumen diplomasi lunak. Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang mendukung kemerdekaan Palestina di forum internasional, termasuk melalui resolusi PBB dan pengiriman bantuan kemanusiaan. Namun, belum banyak momen di mana suporter lokal mengaitkan dukungan politik dengan euforia tim nasional secara langsung.
Klub-klub sepak bola Indonesia seperti Persib atau PSM pernah menampilkan aksi solidaritas Palestina di tribun penonton. Namun, skala emosional yang terjadi di Gaza usai kemenangan Spanyol menunjukkan betapa dalamnya pengaruh narasi geopolitik terhadap identitas suporter di wilayah konflik.
Fenomena ini juga relevan dengan tren suporter di Tanah Air yang semakin kritis terhadap isu global. Komunitas suporter independen kerap menggunakan pertandingan sebagai ruang kampanye isu kemanusiaan, meski belum setajam respons warga Gaza yang menjadikan juara dunia sebagai simbol perlawanan.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia sebelumnya mencatat bahwa dukungan publik Indonesia termasuk yang paling konsisten di Asia Tenggara. Hal itu tercermin dari donasi sukarela hingga aksi damai yang rutin digelar menjelang laga internasional bertema kemanusiaan.
Ke depan, kemenangan Spanyol diprediksi akan memperkuat citra negara tersebut sebagai sekutu moral Palestina di Eropa. Langkah ini berpotensi mendorong negara lain di Uni Eropa untuk mengambil sikap serupa menjelang siklus politik baru.
Di sisi olahraga, federasi lain mungkin akan menimbang posisi diplomatik sebagai bagian dari strategi branding global. Sepak bola tidak lagi murni tentang gol dan trofi, melainkan juga tentang nilai yang diusung di tengah dunia yang terpolarisasi.