Wilayah Sukabumi, Jawa Barat, kembali diguncang gempa bumi tektonik pada Rabu dini hari, 1 Juli 2026. Peristiwa tersebut terjadi tepat pada pukul 03.57 WIB dengan kekuatan Magnitudo 3,4. Berdasarkan analisis data seismik, pusat gempa diketahui berada di daratan dengan jarak sekitar 52 kilometer arah selatan dari pusat kota Sukabumi, pada kedalaman dangkal yakni 24 kilometer.
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang, Hartanto, menjelaskan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang ada di wilayah tersebut. Karakteristik gempa dangkal seperti ini memang sering terjadi di kawasan Jawa Barat yang memiliki banyak jalur patahan aktif.
Laporan dari masyarakat setempat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan cukup nyata di wilayah Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Intensitas gempa berada pada skala II MMI, yang berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang dan menyebabkan benda-benda ringan yang tergantung di dalam rumah ikut bergoyang. Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan infrastruktur bangunan maupun korban jiwa akibat kejadian ini.
BMKG juga memastikan bahwa hingga beberapa jam setelah kejadian, belum terdeteksi adanya aktivitas gempa susulan yang membahayakan. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi bencana geologi lainnya yang mungkin terjadi di masa depan.
Data dari Stasiun Geofisika BMKG Bandung mencatat penurunan frekuensi gempa di Jawa Barat selama periode Juni 2026. Tercatat hanya ada 72 kali gempa bumi sepanjang bulan tersebut, menurun drastis dibandingkan bulan Mei yang mencapai 136 kejadian. Dari total 72 gempa di bulan Juni, sebanyak 60 di antaranya tergolong gempa dangkal, dan hanya lima kejadian yang dirasakan oleh masyarakat.
Salah satu gempa signifikan yang dirasakan di Jawa Barat sebelumnya terjadi pada 6 Juni 2026. Gempa berkekuatan Magnitudo 3,5 dengan pusat di barat daya Kabupaten Cianjur tersebut dirasakan hingga skala II-III MMI di berbagai kecamatan di Cianjur serta Kota Sukabumi. Data historis ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus memperkuat mitigasi bencana di wilayah rawan gempa.