Will Lawrence, salah satu pendiri kelompok aktivis iklim Sunrise Movement, kini tengah mencalonkan diri sebagai anggota Kongres di distrik swing Michigan. Ia menjadi salah satu dari segelintir kandidat di Amerika Serikat yang secara terbuka menyerukan moratorium pembangunan pusat data (data center). Dukungan dari Senator Bernie Sanders semakin memperkuat posisinya, dengan Sanders menyebut Lawrence sebagai kandidat yang mampu menuntut akuntabilitas nyata dari perusahaan teknologi besar dan pengembang kecerdasan buatan.
Lawrence mengungkapkan bahwa penolakan masyarakat terhadap pusat data membantunya memahami resistensi warga pedesaan terhadap proyek industri skala besar lainnya, termasuk energi terbarukan. Kampanyenya menjadikan isu pusat data sebagai alat strategis untuk menggalang dukungan pemilih dalam pemilihan pendahuluan Demokrat di distrik ke-7 Michigan yang akan berlangsung pada Agustus mendatang.
Data internal dari Data for Progress menunjukkan hasil yang signifikan: lebih dari 40 persen responden pemilih Demokrat cenderung memilih kandidat yang menentang pembangunan pusat data. Sentimen ini bahkan lebih kuat di kalangan pemilih berusia di bawah 45 tahun, di mana hampir 80 persen menyatakan dukungan terhadap kandidat anti-pusat data. Lawrence mengaku isu ini muncul secara organik dari keresahan warga yang merasa diabaikan oleh perusahaan dan pejabat lokal.
Ketegangan antara warga lokal dan pengembang pusat data di Michigan semakin memanas. Data dari Cleanview mencatat setidaknya ada 11 proyek pusat data yang direncanakan di seluruh Michigan. Meskipun ada penolakan keras di dua wilayah distrik ke-7 yang berhasil menghentikan proyek, pengembang sering kali memiliki cara lain untuk memuluskan rencana mereka, termasuk melalui jalur hukum terhadap pemerintah daerah yang menolak.
Situasi ini menciptakan kontras politik yang tajam di tingkat negara bagian. Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer, baru-baru ini menghadiri peresmian pusat data Oracle dan memuji investasi senilai 16 miliar dolar AS tersebut, bahkan berfoto bersama CEO OpenAI, Sam Altman. Hal ini menunjukkan adanya jurang pemisah antara prioritas pembangunan ekonomi pemerintah pusat dan aspirasi masyarakat akar rumput.
Strategi politik yang diusung Lawrence mencerminkan pergeseran sentimen publik yang semakin kritis terhadap dampak lingkungan dan sosial dari infrastruktur teknologi skala besar. Para ahli strategi politik menilai bahwa kandidat yang mengabaikan kekhawatiran warga terkait keberadaan pusat data berisiko kehilangan dukungan krusial, terutama di wilayah-wilayah yang merasa kedaulatan lokalnya terancam oleh kepentingan perusahaan teknologi raksasa.