Pemerintah Provinsi Bali secara resmi meluncurkan Gerakan Pilah Sampah se-Bali yang dipusatkan di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, pada Selasa, 7 Juli 2026. Acara yang dikemas dalam format Apel Siaga ini menjadi langkah strategis untuk menggalang partisipasi aktif masyarakat dalam mengatasi krisis sampah yang terus membayangi destinasi wisata dunia tersebut.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, Gubernur Bali Wayan Koster, serta jajaran pimpinan daerah di seluruh wilayah Bali. Simbolisasi dimulainya gerakan ini dilakukan dengan pemukulan kulkul atau kentongan secara serentak oleh para pejabat yang hadir, menandai komitmen kolektif dalam pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Bali atas keberhasilannya menjaga ketahanan pangan nasional. Bali tercatat sebagai salah satu dari tiga provinsi terbaik di Indonesia dengan indeks ketahanan pangan mencapai 79,89. Prestasi ini dianggap sebagai buah dari kerja keras pemerintah daerah dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Kendati demikian, tantangan besar masih menanti di sektor lingkungan. Dengan volume timbulan sampah mencapai 3.500 ton per hari dari 4,5 juta penduduk, pemerintah pusat mendorong percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber (PSBS). Wamen Hanif menekankan bahwa sebagai wajah pariwisata Indonesia, Bali harus segera menuntaskan permasalahan sampah agar tidak lagi membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) seperti TPA Suwung.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah pusat memberikan penghargaan serta bantuan peralatan pengolahan kompos kepada 10 desa dan desa adat di Bali yang dinilai sukses menerapkan sistem pemilahan sampah mandiri. Langkah ini diharapkan dapat menjadi prototipe bagi desa-desa lainnya dalam menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang mandiri dan efektif.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kembali bahwa strategi paling krusial dalam mengatasi persoalan sampah adalah dengan menyelesaikannya langsung dari sumber atau hulu. Menurut Koster, keterlibatan aktif rumah tangga dalam memilah sampah sejak dari dapur merupakan kunci utama untuk mengurangi beban operasional TPA dan menciptakan lingkungan Bali yang bersih, hijau, serta berkelanjutan sesuai target nasional Desember 2026.