Berita

Gubernur DIY Imbau Wisatawan Hindari Pendakian ke Puncak Gunung Merapi

Gubernur DIY Imbau Wisatawan Hindari Pendakian ke Puncak Gunung Merapi

Ringkasan

  • Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengimbau wisatawan untuk tidak mendaki ke puncak Gunung Merapi karena statusnya masih berada di Level Tiga atau Siaga.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara tegas mengeluarkan imbauan kepada seluruh wisatawan dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas pendakian hingga ke puncak Gunung Merapi. Langkah ini diambil sebagai respons atas status Gunung Merapi yang saat ini masih berada pada Level Tiga atau Siaga, mengingat potensi bahaya erupsi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dalam keterangannya di Yogyakarta pada Kamis, Sri Sultan menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan keselamatan demi menghindari risiko yang tidak diinginkan bagi para pengunjung. Pihaknya menyoroti bahwa wisatawan yang datang dari luar daerah sering kali kurang memahami karakteristik serta dinamika aktivitas vulkanik Merapi dibandingkan dengan warga lokal yang tinggal di lereng gunung tersebut.

Gunung Merapi, yang posisinya membentang di perbatasan Kabupaten Sleman, DIY, dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah, dalam beberapa hari terakhir memang menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, termasuk insiden erupsi. Fenomena ini menjadi pengingat nyata bahwa kawasan puncak merupakan zona berbahaya yang harus dihindari oleh masyarakat umum maupun pelaku pariwisata.

Sri Sultan menegaskan bahwa masyarakat yang bermukim di lereng gunung telah memiliki pemahaman mendalam mengenai mitigasi bencana. Warga lokal dianggap sudah mampu memprediksi arah aliran guguran lava maupun awan panas, sehingga mereka lebih sigap dalam mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri saat terjadi aktivitas vulkanik yang mengancam pemukiman.

Sebaliknya, pendatang yang sekadar ingin berlibur dinilai tidak memiliki kepekaan yang sama terhadap tanda-tanda alam di Gunung Merapi. Oleh sebab itu, Gubernur DIY meminta wisatawan untuk menahan diri dan tidak memaksakan diri melakukan pendakian, terutama saat status gunung belum diturunkan ke level yang lebih aman oleh pihak berwenang.

Lebih lanjut, Sri Sultan menegaskan bahwa acuan utama dalam menentukan keamanan kawasan tersebut adalah data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Masyarakat dan wisatawan diminta untuk selalu memantau informasi resmi dari BPPTKG dan tidak mengabaikan peringatan yang telah dikeluarkan demi keselamatan nyawa di tengah ketidakpastian aktivitas vulkanik yang masih tinggi.

Mengapa Ini Penting

Berita ini sangat krusial bagi sektor pariwisata dan keselamatan publik untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di zona bencana aktif. Selain itu, ini menunjukkan pentingnya literasi mitigasi bencana bagi wisatawan domestik agar tidak mengabaikan standar operasional prosedur keselamatan di kawasan rawan erupsi.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
2 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit