Internasional

Guncangan Tata Kelola FIFA: Gianni Infantino di Bawah Tekanan Besar

Ringkasan

  • FIFA meminta maaf kepada 211 anggota setelah rencana komersialisasi Piala Dunia gagal, memicu krisis tata kelola yang mengancam posisi Presiden Gianni Infantino menjelang pemilihan.

FIFA tengah menghadapi krisis internal paling signifikan dalam satu dekade terakhir setelah rencana komersialisasi Piala Dunia yang diusung Presiden Gianni Infantino gagal total. Rencana untuk melepas sebagian hak komersial turnamen tersebut menuai protes keras dari berbagai konfederasi dan liga sepak bola dunia, yang merasa tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis yang krusial bagi masa depan olahraga ini.

Menanggapi badai kritik tersebut, FIFA secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada 211 anggota asosiasinya dalam pertemuan di Rabat, Maroko. Kepemimpinan FIFA mengakui bahwa proses yang mereka jalankan terkait proposal 'FIFA Forward Enterprise'—sebuah rencana spin-off operasional bernilai 20 miliar dolar AS—seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih transparan dan inklusif.

Ketegangan ini berakar dari budaya organisasi FIFA yang dinilai terlalu memusatkan kekuasaan pada segelintir elit. European Leagues, yang mewakili lebih dari 1.300 klub di Eropa, secara terbuka mengecam FIFA. Mereka menyoroti pola di mana pemangku kepentingan lebih sering 'diberitahu' tentang keputusan yang sudah diambil, alih-alih diajak berdiskusi sebelum kebijakan tersebut difinalisasi.

Selain isu komersialisasi, kritik juga mengarah pada usulan kontroversial untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim. Waktu penilaian yang hanya empat minggu dianggap tidak realistis dan menunjukkan betapa lemahnya mekanisme konsultasi FIFA terhadap pihak-pihak yang terdampak langsung oleh perubahan format turnamen tersebut.

Bagi Gianni Infantino, manuver ini adalah upaya untuk mengamankan posisi politiknya menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang di Maroko. Meski ia masih mengantongi dukungan kuat dari asosiasi-asosiasi kecil di Afrika dan Asia yang bergantung pada pendanaan FIFA, posisi tawar moralnya kini berada di titik terendah.

UEFA bahkan telah mengambil langkah hukum dengan mengirimkan 'document procurement letter' kepada FIFA. Langkah ini bertujuan mengamankan bukti-bukti penting guna mengantisipasi investigasi lebih lanjut atas transparansi operasional badan sepak bola dunia tersebut. Ini merupakan sinyal bahaya yang nyata bagi stabilitas kepemimpinan Infantino.

Dampak dari kegaduhan ini sangat terasa hingga ke Indonesia. Sebagai anggota FIFA yang aktif dalam program-program pengembangan, ketergantungan Indonesia pada kebijakan pusat di Zurich cukup tinggi. Jika FIFA melakukan restrukturisasi besar-besaran atau mengubah alokasi pendanaan akibat krisis ini, PSSI dan klub-klub lokal bisa merasakan efek domino pada program pembinaan usia dini yang selama ini didukung dana FIFA Forward.

Di Indonesia, transparansi tata kelola sepak bola sering kali menjadi sorotan publik. Kasus yang menimpa FIFA ini memberikan pelajaran berharga bahwa organisasi olahraga sebesar apa pun tidak bisa mengabaikan suara pemangku kepentingan. Ketidakmampuan FIFA dalam berkomunikasi dengan liga-liga elit dunia adalah cermin bagi pengelola kompetisi di tanah air untuk lebih terbuka dalam menyusun regulasi.

Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, sempat mengirimkan memo internal yang menyiratkan kekecewaan atas rangkaian peristiwa ini. Meski secara publik ia memberikan dukungan kepada Infantino, memo tersebut menegaskan bahwa individu dan momen-momen tidak stabil hanyalah bagian dari dinamika organisasi yang akan berlalu, sebuah pernyataan yang cukup ambigu di tengah tekanan politik yang ada.

Legenda sepak bola dunia, Luis Figo, bahkan secara blak-blakan meminta Infantino untuk mundur. Figo menilai sang presiden telah merendahkan martabat jabatan yang ia emban. Tekanan dari tokoh-tokoh besar ini menambah beban psikologis bagi Infantino dalam mempertahankan kursi kepemimpinannya untuk periode hingga 2031.

Ke depan, FIFA diprediksi akan menghadapi tuntutan reformasi tata kelola yang jauh lebih ketat. Setiap proposal di masa depan, baik terkait strategi komersial maupun perubahan format turnamen, dipastikan akan melalui pengawasan ekstra dari konfederasi besar. Transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk meredam resistensi.

Langkah selanjutnya bagi FIFA adalah menyajikan laporan evaluasi internal kepada dewan pengurus dalam pertemuan mendatang. Apakah laporan ini akan mampu memuaskan pihak-pihak yang berseberangan atau justru memicu gelombang perlawanan baru? Dunia sepak bola kini sedang menanti apakah era kepemimpinan Infantino akan bertahan setelah badai ini mereda atau justru berakhir lebih cepat dari perkiraan.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial bagi Indonesia karena ketergantungan PSSI pada pendanaan FIFA Forward untuk pengembangan sepak bola nasional. Krisis tata kelola di level tertinggi FIFA berpotensi mengubah arah kebijakan distribusi dana bantuan, yang akan berdampak langsung pada klub dan federasi di negara berkembang. Selain itu, ini menjadi preseden penting mengenai pentingnya transparansi dalam organisasi olahraga yang sering kali luput dari pengawasan publik.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
6 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit